RI Mau Merkel atau Schreuder?

RI Mau Merkel atau Schreuder?

- detikNews
Sabtu, 08 Okt 2005 22:15 WIB
Den Haag - Jerman adalah mitra penting Indonesia baik dalam konteks bilateral maupun Uni Eropa (UE). Jika Schreuder kembali terpilih, bisa dipastikan kebijakan yang sedang berjalan akan diteruskan. Tapi jika Merkel yang terpilih?Menurut Gunaryadi, direktur Indonesian Centre for Actual Information and Studies on Europe (Indocase), jika Angela Merkel yang terpilih sebagai kanselir Jerman, maka akan ada beberapa implikasi terhadap interaksi kedua negara. Dalam konteks politik dan strategis, gagasan Merkel untuk lebih dekat dengan Washington dan lebih cenderung bersikap unilateralis dalam politik global bermakna mitra multilateris Indonesia di UE akan berkurang. Bandingkan dengan kebijakan luarnegeri Schreuder selama ini, yang lebih multilateralis dan memiliki banyak interseksi dengan prinsip kebijakan luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif. "Salah satu contohnya adalah sikap yang konvergen antara Jerman dan Indonesia dalam kasus Irak," demikian Gunaryadi kepada detikcom seusai pemilu susulan di Dresden (2/10/2005). Meskipun jika Merkel terpilih sebagai kanselir akan terjadi pergeseran kebijakan, namun Gunaryadi memperkirakan tidak akan membawa implikasi yang radikal dalam hubungan Jerman-Indonesia. Sedikitnya, kata Gunaryadi, ada 4 alasan yang mendukung argumentasi tersebut. Pertama, melihat konstelasi politik di Budestag dan kemungkinan koalisi maka kekuatan partai politik yang berhaluan kanan-tengah dan kiri hampir seimbang. Hasil pemilu menegaskan bahwa mandat yang diharapkan Schreuder untuk meneruskan agenda reformasinya tidak terpenuhi dan Merkel pun tidak pula bisa membuat keputusan yang decisive tanpa menimbang aspirasi kelompok sosial-demokrat di parlemen. Kedua, perbedaan sikap politik antara CDU/CSU dan SPD sesungguhnya lebih sedikit dibandingkan ketidaksamaan pribadi antara Merkel dan Schreuder. Ketiga, fokus perubahan kebijakan yang diusung Merkel lebih dalam konteks regional UE. Keempat, hubungan ekonomi Jerman-Indonesia termasuk ke dalam domain yang penting bagi Jerman karena sepertiga omset ekonominya berasal dari perdagangan luar negeri.Gunaryadi memperkirakan dalam ranah kerjasama ekonomi tersebut, kerjasama pembangunan, serta sains dan teknologi, tidak akan banyak perubahan kebijakan. Soalnya perusahaan-perusahaan Jerman sudah aktif di Indonesia jauh sebelum mereka melabuh di kawasan lain di Asia. "Bahkan Bayer, Beiersdorf, DaimlerChrysler, Heidelberg Cement, Osram dan Fuchs Oil tidak ramai-ramai hengkang keluar dari Indonesia ketika ekonomi kita sedang goncang dan kondisi politik labil," argumen pria yang nyambi mengajar di Sekolah Indonesia Nederland (SIN).Gunaryadi memaparkan, sejak 2004 volume perdagangan Jerman-Indonesia bernilai 3,96 milyar euro, dengan surplus di pihak Indonesia sekitar 500 juta euro. Kontribusi Jerman dalam pangsa ekspor UE ke Indonesia di tahun itu mencapai 36%, dan 23% impor UE dari Indonesia juga didominasi Jerman. Di samping itu nilai investasi baru Jerman ke Indonesia di tahun yang sama mencapai 24,8 juta euro. Sebelumnya di tahun 2003 volume investasi Jerman sudah mencapai 143,2 juta euro.Dalam kerangka kerjasama pembangunan, Jerman merupakan negara donor bilateral kedua terbesar setelah Jepang. Menurut Gunaryadi, Jerman telah menyalurkan sekitar 3 milyar euro yang juga mencakup sumbangan pembangunan dari gereja, yayasan politik dan LSM lainnya. Kontribusi Jerman terhadap pembangunan di Indonesia juga disalurkan melalui institusi multilateral seperti PBB, Bank Dunia, ADB, dan UE."Kerjasama sains dan teknologi Jerman-RI juga termasuk proritas dalam hubungan bilateral, yang dilandasi kesepakatan tahun 1979. Sekitar 20 ribu ilmuwan dan insinyur Indonesia adalah alumni dari Jerman," tandas Gunaryadi. (es/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads