detikNews
Selasa 04 Juni 2019, 19:58 WIB

Cerita Berkesan Ramadhan

Mencari Lailatul Qadar di Stockholm

Ahmad Satria Budiman - detikNews
Mencari Lailatul Qadar di Stockholm Stockholm Central Mosque (Ahmad Satria Budiman/istimewa)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadhan
Stockholm - Di pengujung bulan Ramadhan, umat Islam di seluruh dunia berusaha mendapatkan Lailatul Qadar. Tak terkecuali itu dilakukan di Swedia.

Ketika seorang imam melafalkan ayat-ayat tertentu dari Alquran saat salat, ada kalanya ia menangis. Begitu juga sewaktu salat Tarawih dan salat malam di Swedia, bukan hanya imam, sebagian besar jemaah yang memang berbahasa Arab juga ikut sesenggukan.

Ada satu malam yang paling dicari umat Islam di bulan Ramadhan, yaitu Lailatul Qadar. Malam tersebut ada pada sepuluh hari terakhir. Kita tidak pernah tahu malam itu akan jatuh pada hari keberapa, namun banyak yang berpendapat bahwa kemungkinan besar ada pada malam-malam ganjil. Sabtu lalu tanggal 25 Mei 2019 merupakan malam ganjil pertama atau malam ke-21. Saya pun mempersiapkan diri untuk melaksanakan iktikaf di masjid.

Berusaha mendapatkan Lailatul Qadar

Ketika di Indonesia, saya berdomisili di Palembang. Masjid yang biasa saya datangi adalah Masjid Al-Aqobah I di kompleks PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) karena dekat dengan rumah. Saya biasa ke sana bersama keluarga atau dengan teman-teman kantor. Sepulang Tarawih, saya tidur dulu, lalu berangkat dari rumah jam satu dini hari. Ibadah di sana, selain tilawah, juga ada salat malam atau qiyamul lail berjemaah. Setelah itu, makan sahur dengan menu nasi Padang. Kemudian dilanjutkan Subuh berjemaah dan ceramah subuh, baru pulang.

Beruntung sekali malam ganjil pertama kali ini jatuh pada akhir pekan. Sayang sekali jika dilewatkan begitu saja. Setelah mencari informasi beberapa hari sebelumnya, sejumlah masjid di sini yang mengadakan iktikaf antara lain Stockholm Central Mosque, Khadija Center, Aysha Mosque, dan Tensta Mosque. Saya lalu memutuskan beriktikaf di Stockholm Central Mosque dan bertemu dengan beberapa teman mahasiswa dari Indonesia juga di sana.

Mencari Lailatul Qadar di StockholmSuasana qiyamul lail (Ahmad Satria Budiman/istimewa)
Waktu Isya pukul 22.53 CEST. Setelah melaksanakan salat Isya berjemaah, ibadah segera dilanjutkan salat Tarawih dan Witir berjemaah tanpa jeda salat sunah rawatib. Jumlah rekaat di Stockholm Central Mosque sebanyak 11 rekaat dengan doa qunut yang relatif panjang pada rekaat terakhir salat Witir. Kurang-lebih satu jam, salat pun usai. Ada pengumuman yang disampaikan dalam bahasa Arab dan bahasa Swedia oleh pengurus masjid.

Isinya kurang-lebih memberi tahu kalau jam satu dini hari akan dilaksanakan qiyamul lail berjemaah sebagai rangkaian ibadah di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Selama menunggu hingga jam satu, jemaah tampak melakukan aktivitas masing-masing. Ada yang salat, bercakap-cakap, membaca Alquran, berzikir, dan lain-lain. Jika haus, ada keran air dan gelas berbahan polystyrene untuk minum, jadi tidak disediakan air minum kemasan gelas. Saya dan beberapa orang membawa botol minum sendiri dan mengisi di keran tersebut.

Saya memperhatikan, hampir tidak ada yang tidur seperti suasana iktikaf di Indonesia. Tidak ada yang menggelar selimut atau membawa bantal. Salah satunya mungkin karena malam hari relatif sebentar dan jarak antara Isya dan Subuh relatif pendek. Selain tidak mengantuk, tanggung sekali rasanya jika tidur. Di samping itu, hampir tidak ada jemaah yang membawa balita. Sekelompok remaja memang terlihat bersenda gurau, namun relatif jauh dari jemaah sehingga tidak terlalu ribut. Suasana iktikaf terasa lebih tertib dan lebih teratur.

Mengenai waktu tidur, setiap orang punya cara tersendiri dalam mengaturnya. Ada yang mengubahnya jadi pagi, siang, atau sore hari. Selain konsisten, tips yang pernah dibagikan oleh teman-teman PPI Stockholm agar tubuh tetap bugar adalah menyempatkan diri untuk berjalan ke luar ruangan, misalnya saat jam istirahat makan siang. Hal ini untuk memberikan sirkulasi oksigen sehingga lebih mudah berkonsentrasi serta supaya tidak mudah mengantuk.

Imam dan jemaah menangis

Tak lama jam satu pun tiba, imam masjid menyampaikan bahwa qiyamul lail akan dimulai. Jemaah bergegas untuk berdiri dan berbaris rapi membentuk shaf. Qiyamul lail kemudian berlangsung dengan khusyuk. Jemaahnya kurang-lebih tiga shaf. Sebagai perbandingan, saat Tarawih dan Witir, jemaahnya bisa sampai enam shaf. Di masjid ini, lantai bawah diperuntukkan bagi jemaah laki-laki, sementara lantai atas diperuntukkan bagi jemaah perempuan.

Mencari Lailatul Qadar di StockholmSuasana iktikaf (Ahmad Satria Budiman/istimewa)
Pada kesempatan ini, qiyamul lail dilaksanakan sebanyak enam rakaat dengan 2 rakaat setiap sesinya. Ketika imam melafalkan bacaan ayat di salah satu rakaat, perlahan seorang jemaah di sebelah saya terisak. Saya mencoba lebih berkonsentrasi untuk mencari tahu persisnya ayat apa yang sedang dibaca imam. Tak lama kemudian, sang imam juga menangis tersedu-sedu, disusul isak tangis jemaah lainnya. Saya masih belum menangkap ayat yang dimaksud.

Saya merasa jadi orang paling bodoh. Memang sebagian jemaah di sini bisa berbahasa Arab, sehingga pasti tanpa hafal Alquran pun sedikit banyak bisa tahu ayat yang sedang dilafalkan imam sedang membahas tentang apa. Saya hanya menangkap sepotong demi sepotong kata, seperti hari kiamat, ampunan, azab, orang bertakwa, bumi, dan langit. Ketika mendengar sebuah bait yang tidak asing lagi, saya tersadar itu bagian dari Surah Az-Zumar.

Seusai salat, saya langsung membuka mushaf untuk mencari ayat yang tadi dibaca. Saya menemukannya Surah Az-Zumar ayat 53-75. Dengan smartphone, saya membaca terjemahan ayat tersebut, lalu termenung. Beberapa ayat di sana pada intinya adalah ketika kita sudah tidak lagi di dunia, tidak ada lagi kesempatan. Semua yang seharusnya dilakukan sudah disampaikan Allah dalam Alquran, lantas mengapa kita terkadang memilih mendustakannya.

Lebih lanjut, beberapa ayat lainnya membahas tentang Padang Mahsyar di mana manusia kelak dikumpulkan di sana untuk memperoleh catatan amal selama di dunia. Tidak ada yang bisa mengelak dari apa yang dikerjakan selama di dunia karena proses penghitungan berlangsung adil. Setiap kita akan memperoleh balasan sesuai apa yang dikerjakan. Saya pun perlahan memahami, sekaligus jadi pengingat diri, mengapa jemaah iktikaf menangis tadi.

Sekitar pukul dua dini hari, qiyamul lail pun selesai. Imam masjid lalu menyampaikan untuk makan sahur di sebuah ruangan di lantai atas. Jemaah laki-laki beranjak naik dan melaksanakan santap sahur di sana, termasuk saya dan beberapa teman Indonesia. Menunya sederhana, ada roti tortilla, daging asap kemasan, mentega, kurma, pisang, dan susu. Alhamdulillah sehat dan kenyang. Sebagian jemaah ada yang membawa bekal sahur sendiri dari rumah.

Mencari Lailatul Qadar di StockholmSahur bersama (Ahmad Satria Budiman/istimewa)
Setelah itu, jemaah kembali turun untuk menunggu Subuh. Waktu Subuh hari itu pukul 02.25 CEST. Setelah melaksanakan salat Subuh berjemaah, aktivitas dilanjutkan ceramah Subuh yang disampaikan dalam bahasa Arab. Sebagian jemaah tetap tinggal, beberapa yang lain termasuk saya dan teman-teman memutuskan untuk pulang. Beruntungnya akhir pekan seperti yang saya sebutkan di awal tadi, jadwal transportasi umum lebih fleksibel.

Ketika mengecek jadwal di aplikasi hari itu, diketahui usai Subuh di Stockholm Central Mosque, saya bisa pulang dengan beberapa pilihan, yaitu kereta (logo T) pukul 02.55, 02.57, dan 03.14 CEST, dengan jarak sekitar 26 menit sampai rumah. Saya lalu mencoba cek jadwal kalau hari kerja, tepatnya Selasa tanggal 28 Mei 2019. Pilihannya ada bus (gambar bus) pukul 03.28, 03.58, dan 04.28 CEST, dengan jarak berkisar 48 menit sampai rumah.

Saya sendiri memahami bahwa iktikaf termasuk ibadah sunah, sementara puasa termasuk ibadah wajib sebagaimana diterangkan dalam Alquran pada Surah Al-Baqarah ayat 183. Oleh karena itu, saya belajar untuk tidak berlebihan dalam mengerjakan yang sunah. Bukan berarti yang sunah tidak lebih penting daripada yang wajib, keduanya sama-sama penting. Hanya, berusaha untuk seimbang satu sama lain sesuai dengan porsinya.

Bukankah hakikat berpuasa adalah mengendalikan diri dari hawa nafsu yang tidak sebatas menahan diri dari lapar dan haus, tetapi juga menahan pandangan, perkataan, dan perbuatan? Menurut saya, prinsip tidak berlebihan ini sedikit banyak mirip dengan salah satu prinsip hidup orang Swedia yang disebut 'lagom'. Lagom artinya tidak kurang dan tidak lebih, pas sesuai porsinya. Jangan sampai karena berlebihan mengerjakan yang sunnah, yang wajib malah jadi terlupakan. Yang juga penting dalam beribadah adalah mengharap rida Allah.

*) Ahmad Satria Budiman adalah mahasiswa program master tahun kedua di Department of Fibre and Polymer Technology, KTH Royal Institute of Technology, Stockholm, yang juga merupakan Bendahara Perhimpunan Pelajar Indonesia di Swedia (PPI Swedia) 2018-2019.
*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama detikcom dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia).
(fay/fay)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadhan
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed