detikNews
Selasa 04 Juni 2019, 19:01 WIB

Blak-blakan Prof Quraish Shihab

Idul Fitri, Cinta, hingga Politik yang Direstui Islam

Erwin Dariyanto - detikNews
Idul Fitri, Cinta, hingga Politik yang Direstui Islam Prof M Qufaish Shihab (Zaki Alfarabi/detikcom)
Jakarta -

Ramadhan diakhiri dengan maaf-memaafkan pada Hari Raya Idul Fitri agar hubungan kita dengan Allah SWT dan sesama kian baik. Khusus di Indonesia, perayaan Idul Fitri itu lebih populer dengan istilah halalbihalal.

"Itu maknanya mencairkan yang beku, menghangatkan yang dingin, mengurai yang kusut," kata cendekiawan muslim Prof Quraish Shihab kepada Tim Blak-blakan detikcom.

[Gambas:Video 20detik]

Sudah menjadi fitrah manusia sering lupa, sehingga kesalahan yang terjadi mungkin karena lupa. Karena itu, kata Quraish, sesama manusia diwajibkan untuk saling memaafkan. Jika memungkinkan meminta maaf itu sambil tatap muka, "Bila tidak, ya manfaatkan teknologi. Kirim SMS, WhatsApp," ujarnya.

Tapi, sebelum sampai ke Idul Fitri, pendiri Pusat Studi Alquran ini melanjutkan, untuk menyempurnakan ibadah puasa, diwajibkan bagi yang mampu untuk membayar zakat. Sebab, Rasulullah pernah menyatakan puasa itu menggantung di antara langit dan bumi sampai zakat fitrah ditunaikan.

"Zakat fitrah itu lambang kesediaan seseorang untuk memberi hidup orang lain," kata Quraish.

Pada bagian lain, Menteri Agama dalam kabinet terakhir Presiden Soeharto itu mengungkapkan rencana dirinya meluncurkan dua buku bertajuk 'Al-Maidah 51' dan 'Jawabannya Adalah Cinta'.

Buku 'Al-Maidah 51' menghimpun pendapat kurang-lebih 40 ulama ahli di seluruh dunia terkait tafsir ayat 51 surat tersebut. Sementara 'Jawabannya adalah Cinta' berisi tentang bagaimana dengan cinta bisa menyelesaikan semua persoalan yang dihadapi manusia.

Seberat dan serumit apa pun sebuah persoalan, baik itu bersifat pribadi maupun sosial, bahkan kenegaraan, kata lelaki kelahiran 16 Februari 1944 itu, insyaallah dapat diselesaikan dengan cinta. Tapi, agar cinta itu ada dan tumbuh, rasa benci harus dikikis terlebih dahulu.

Quraish juga bicara soal politik ala Nabi Muhammad SAW, yang berbeda dengan politik masa kini. Nabi berpolitik bukan untuk meraih kekuasaan. Itulah sebabnya, meski sejumlah wilayah berhasil ditaklukkan, dia tak serta-merta merebut kursi pimpinan.

"Kalau politik sekarang, secara umum adalah upaya meraih kekuasaan, baik secara konstitusional maupun tidak, baik dengan menipu maupun tidak. Itu politik sekarang bukan hanya di Indonesia, pada umumnya di negara lain di dunia juga," kata Quraish.

Politik yang direstui Islam adalah yang berupaya mewujudkan kemaslahatan bersama. Menurut Quraish, dalam bahasa agama, politik ada dua istilah, yakni hikmat atau siasat. Dalam politik Islam, diizinkan untuk bersiasat asalkan untuk kepentingan umat.

Pada bagian lain, Quraish juga berbicara tentang tradisi menyambut Lebaran di keluarganya. Seperti apa? Saksikan Blak-blakan Quraish Shihab soal Idul Fitri dan Politik ala Nabi di detikcom.




(jat/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed