Pengamat: Pengaktifan Koter Akan Memicu Konflik Horizontal

Pengamat: Pengaktifan Koter Akan Memicu Konflik Horizontal

- detikNews
Sabtu, 08 Okt 2005 07:04 WIB
Jakarta - Penolakan terhadap rencana pengaktifan komando teritorial (koter) dalam mengantisipasi teroris kian kuat. Langkah tersebut dinilai hanya akan memicu konflik horizontal di tengah masyarakat."Pengaktifan kembali koter hanya akan berpotensi menimbulkan masalah baru karena akan banyak masyarakat yang menjadi mata-mata di lingkungannya," kata Direktur Eksekutif LSM Propatria, T Hari Prihartono, dalam percakapan dengan detikcom, Sabtu (8/10/2005).Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan intelijen ini akan menyebabkan tingginya tingkat kecurigaan antar warga sendiri. "Bagaimana keamanan masyarakat bisa terjamin kalau antar warga saling curiga," tambahnya.Menurutnya, TNI dan Polri lebih baik tidak melibatkan pemerintah dalam melakukan aksi intelijen. Sebab, koordinasi antar intelijen akan makin amburadul. "Lebih baik intelijen dari setiap depertemen saja yang dilibatkan. Toh, masyarakat juga kan sudah menggaji mereka dengan membayar pajak kepada negara," tandasnya.Ia berpendapat, pemerintah tidak perlu terburu-buru mengaktifkan kembali koter. Alasannya, instrumen pemerintahan hingga tingkat RT tidak berjalan secara optimal. "Kalau institusi pemerintahannya jalan tentu sangat mudah kita untuk memantau aktifitas warga yang ada," tuturnya.Apalagi, motif aksi terorisme yang terjadi di Bali pada 1 Oktober lalu belum jelas. Apakah terkait dengan jaringan teroris global atau hanya terkait kondisi politik lokal. "Ini lah yang seharusnya diputuskan pemerintah, apa pola bom Bali II itu," ujarnya.Hal ini, lanjut dia, terkait dengan langkah lanjutan dalam menangkal aksi teror selanjutnya. "Kalau memang terkait politik lokal ya tidak perlu pengaktifan kembali koter," ucapnya.Kalau pun pemerintah bersikeras tetap mengaktifkan koter, Hari berpendapat perlu adanya aturan khusus. Aturan ini yang digunakan untuk memperjelas fungsi, tujuan, spesifikasi, dan kegiatan koter. "Sehingga jelas apa indikator kesuksesannya dan sampai kapan koter akan dipertahankan," tegasnya. (ton/)


Berita Terkait