detikNews
Jumat 31 Mei 2019, 18:14 WIB

Setara: Gerakan Keislaman Eksklusif Masih Berkembang di Kampus

Roland - detikNews
Setara: Gerakan Keislaman Eksklusif Masih Berkembang di Kampus diskusi media bertajuk 'Membaca Peta Wacana dan Gerakan Keagamaan di Perguruan Tinggi Negeri, Jumat (31/5/2019) Foto: Roland-detikcom
Jakarta - Setara Institute melakukan penelitian di 10 perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia. Setara menemukan adanya gerakan dan wacana kelompok Islam eksklusif.

"Bahwa di berbagai kampus masih berkembang kelompok wacana dan gerakan keislaman eksklusif. Jadi jangan dibayangkan besar mobilisasi sumber daya kita termasuk sumber daya pemerintah misalkan lewat pelembagaan BPIP, dengan pembubaran HTI, dan seterusnya itu meredam sepenuhnya. Itu tidak. Karena ditemukan ada semacam ketertiban, tapi di bawah sebenernya masih terus berlangsung," kata Direktur Riset Setara Institute Halili.

Pernyataan ini disampaikan dalam diskusi media bertajuk 'Membaca Peta Wacana dan Gerakan Keagamaan di Perguruan Tinggi Negeri di Hotel Ibis Tamarin, Jalan KH Wahid Hasyim, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (31/5/2019).

Penelitian ini dilakukan di 10 PTN, yaitu UI, UIN Syarief Hidayatullah, ITB, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, IPB, UGM, UNY Yogyakarta, UB Malang, Unair, dan Universitas Mataram. Hasilnya menunjukkan adanya relasi organisasi yang dibubarkan pemerintah yaknu HTI dengan gerakan dan wacana kelompok islam eksklusif di kampus tersebut.

"Kedua, pembubaran HTI merupakan satu catatan, tapi pembubaran HTI tidak menghapus saya kira ideologi kanan. Tapi sudah saya katakan, ideologi kanan yang kontra dengan Pancasila, sudah saya katakan 2 proses transformasi. Yang pertama mereka menyusup atau yang kedua simpul mereka digunakan. Sama-sama membahayakan, di permukaan tampak seperti tidak beraktivitas, tapi di bawah tanah mereka terus bergerilya," papar Halili.

Setara menggunakan metode penelitian kualitatif. Salah satu temuan penting dari 13 temuan penelitian adalah adanya kegiatan keislaman yang homogen dan belum mengakomodir kelompok Islam lain.

"Corak kegiatan keislaman di sebagian besar kampus sebenarnya monolitik, cenderung homogen, belum mengakomodir kegiatan kelompok-kelompok lain sesama Islam. Hal itu terlihat dari dominasi kegiatan keislaman tertentu yang diakomodir oleh lembaga struktural kemahasiswaan," papar Halili.

Halili mengapresiasi salah satu kampus yakni UGM yang merestrukturisasi pengelola masjid kampus. Hasilnya, para narasumber mengisi kegiatan di masjid lebih beragam dan moderat.

"UGM juga merestrukturisasi pengelolaan masjid kampus UGM dan memposisikannya langsung di bawah rektorat. Hasilnya latar belakang keislaman para narasumber yang mengisi kegiatan keislaman di masjid kampus lebih beragam dan lebih moderat," imbuh dia.

Setara Institute berharap negara memberikan perhatian terhadap fenomena gerakan dan wacana kelompok Islam eksklusif. Salah satunya perhatian kepada para rektor kampus.

"Inisiatif di beberapa kampus menunjukan betapa negara harus memberikan perhatian serius pada pejabat kunci terutama rektor di kampus-kampus itu," pungkasnya.
(fdn/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com