detikNews
Jumat 31 Mei 2019, 11:25 WIB

LIPI Identifikasi Spesies Cecak dan Keong Baru di Pulau Jawa

Haris Fadhil - detikNews
LIPI Identifikasi Spesies Cecak dan Keong Baru di Pulau Jawa Cnemaspis muria (Foto: dok. LIPI)
Jakarta - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan telah menemukan spesies fauna baru cecak batu dan keong darat. Fauna jenis baru itu ditemukan di Pulau Jawa.

"Satu spesies baru cecak batu secara resmi dicatatkan pada lembaran daftar spesies Indonesia pada tanggal 17 Mei 2019 di jurnal ilmiah ZOOTAXA edisi 4608," ujar Awal Riyanto dari Pusat Penelitian Biologi LIPI dalam keterangan tertulis, Jumat (31/5/2019).

Keberadaan cecak batu (genus Cnemaspis) itu awalnya dijumpai Andri IS Martamenggala dari GAIA Eko Daya Buana. Dia merupakan salah anggota tim pendeskripsi spesies baru saat melakukan kegiatan survei pendataan keragaman hayati di gunung Muria, Jawa Tengah pada bulan Juli tahun 2018.



Usai temuan itu, Andri pun mendatangi Museum Zoologicum Bogoriense LIPI yang menjadi pusat acuan ilmiah terkait keragaman satwa liar Indonesia, untuk melakukan verifikasi yang ditindaklanjuti dengan membentuk tim gabungan untuk memastikan temuan tersebut dengan melihat langsung di lokasi. Berdasarkan catatan ilmiah, distribusi cicak marga Cnemaspis di Indonesia hanya sampai di daerah gunung Rajabasa, Lampung; Kalimantan Barat serta pulau kecil di selat Karimata.

"Setelah melalui kajian morfologis dan filogenik, tim mendapatan kesimpulan bahwa cecak batu dari gunung Muria tersebut merupakan spesies baru," ujar Awal Riyanto.

Ciri-ciri morfologi spesies baru yang bernama Cnemaspis muria ini pupil bulat, panjang tubuh mencapai 5,8 cm, adanya sepasang struktur tuberkular seperti kerucut pada kepala bagian belakang, alur berkutil pada nuchal loop, susunan deret tuberkular dorsal tidak secara linier, serta tidak terdapat pori-pori prakloakal maupun femoral. Spesies jantan mempunyai warna perut dan pangkal kuning serta ujung ekor putih, sedangkan betina perut berwarna putih dan setengah panjang ekor bagian belakang dihiasi warna hitam putih berselang seling seperti cincin," jelas Awal.



Kata Muria sendiri diambil dari Gunung Muria yang merupakan tempat penemuan spesies ini. Cnemaspis muria dijumpai pada habitat berupa bebatuan di sepanjang sungai dan perkebunan kopi serta mungkin juga dalam hutan pada ketinggian antara 600 hingga 650 m di atas permukaan laut.

"Tim peneliti menduga cecak ini mempunyai peran dalam ekosistem perkebunan kopi sebagai pengendali populasi serangga," ujar Awal.

Dia pun meminta perkebunan kopi membatasi penggunaan herbisida dan insektisida. Tujuanya untuk menjaga keberlangsungan hidup spesies yang baru ditemukan ini.

LIPI Identifikasi Spesies Cecak dan Keong Baru di Pulau JawaFoto: dok. LIPI


Selain spesies batu cecak batu, LIPI juga menyatakan ada penemuan spesies baru keong darat. Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI, Ayu Savitri Nurinsiyah bersama Marco Neiber dan Bernhard Hausdorf dari Centrum für Naturkunde / CeNak, Universität Hamburg, Jerman menjadi pihak yang berhasil menemukan spesies baru keong darat tersebut.

"Penemuan tersebut dipublikasikan dalam 'Revision of the land snail genus Landouria Godwin-Austen, 1918 (Gastropoda, Camaenidae) from Java' yang diterbitkan oleh European Journal of Taxonomy edisi Mei 2019," ujar Ayu.

Ada 16 spesies baru keong darat yang berhasil ditemukan oleh ketiga Malacologist (peneliti moluska) tersebut. Mereka melakukan penelitian berdasarkan investigasi terhadap keong Landouria dari hasil koleksi langsung di Jawa maupun yang tersimpan di berbagai museum dunia.

"Dari enam spesies Landouria yang diungkap oleh van Benthem Jutting (1950) dan satu spesies oleh Bunjamin Dharma (2015), kami berhasil mendeskripsi kembali 28 spesies di Jawa, 16 di antaranya adalah spesies baru dalam ilmu pengetahuan," ucap Ayu.

Berikut nama 16 spesies baru keong darat yang ditemukan itu Landouria parahyangensis, Landouria petrukensis, Landouria abdidalem, Landouria naggsi, Landouria nusakambangensis, Landouria tholiformis, Landouria tonywhitteni, Landouria madurensis, Landouria sewuensis, Landouria sukoliloensis, Landouria nodifera, Landouria pacitanensis, Landouria zonifera, Landouria pakidulan, Landouria dharmai, dan Landouria menorehensis.

"Keanekaragaman spesies Landouria tertinggi sebanyak 19 spesies terdapat di dataran rendah di bawah 500 mdpl. Keragaman tersebut berkurang dengan meningkatnya ketinggian," ujar Ayu.

Menurut Ayu, hanya lima spesies yang tercatat ada di ketinggian di atas 1000 mdpl, dan 2 spesies di ketinggian di atas 2000 mdpl. Dia pun berharap dilakukan konservasi demi menjaga keberlangsungan spesies baru ini.
(haf/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed