Cerita Berkesan Ramadhan

Ini Bedanya Ramadhan di Malaysia dengan Indonesia

Ahmad Sururi - detikNews
Kamis, 30 Mei 2019 09:02 WIB
Suasana Ramadhan di Kuala Lumpur (Ahmad Sururi/Istimewa)
Kuala Lumpur - Malaysia dan Indonesia adalah bangsa serumpun. Tapi suasana Ramadhan di negeri jiran itu beda lo dengan di Tanah Air.

Malaysia, negara tetangga yang berdekatan dengan Indonesia, memang mempunyai banyak cerita. Begitu juga hubungan antara Malaysia dan Indonesia yang memiliki cerita tersendiri. Sering kali kita mendengar perselisihan antara Malaysia dan Indonesia. Namun, terlepas dari perselisihan yang ada, sebenarnya hubungan Malaysia dan Indonesia sangat harmonis.

Indonesia dan Malaysia memang disebut sebagai negara serumpun. Karena negara serumpun inilah, ada dampak pada beberapa aspek kehidupan bermasyarakat, sosial, dan budaya. Banyak sekali kesamaan yang dimiliki oleh Indonesia dan Malaysia. Walaupun demikian, ada beberapa hal yang berbeda antara Malaysia dan Indonesia. Salah satunya ialah budaya dan kebijakan pemerintah Malaysia selama bulan Ramadhan.

Sepi. Ya, sepi. Itulah kesan pertama yang ada dalam benak saya ketika menjalani puasa di negeri jiran ini. Tak ada kemeriahan yang berarti menjelang Ramadhan. Sangat sedikit iklan yang berkaitan dengan makanan atau minuman yang biasanya hilir mudik di layar kaca ketika Ramadhan di Indonesia. Tak hanya media cetak atau elektronik, iklan dalam media luar ruangan pun, seperti baliho, billboard, dan spanduk, tidak ada.

Ini Bedanya Ramadhan di Malaysia dengan IndonesiaNgabuburit di Putrajaya (Ahmad Sururi/Istimewa)
Dari informasi yang dihimpun dari masyarakat asli WN Malaysia, iklan makanan dan minuman tersebut dilarang oleh pemerintah Malaysia. Pelarangan ini merupakan sebagai bentuk penghargaan terhadap kaum muslim yang sedang berpuasa. Alasannya, orang yang sedang berpuasa dapat tergoda oleh iklan-iklan tersebut, terlebih anak-anak kecil yang sedang belajar berpuasa. Hal inilah yang diantisipasi oleh pemerintah setempat. Masyarakat muslim yang berada di Malaysia dan sedang berpuasa akan tetap khusyuk dalam beribadah tanpa tergoda oleh iklan-iklan tersebut.

Perasaan sepi selanjutnya muncul karena minimnya pemutaran lagu religi di Malaysia. Berbeda dengan di Indonesia, sebelum masuk bulan Ramadhan, tayangan di televisi sudah menggunakan back sound lagu religi, begitu juga dengan pusat-pusat keramaian. Hal ini yang menumbuhkan rasa semangat untuk menyambut bulan Ramadhan. Namun di Malaysia akan jarang sekali terdengar lagu-lagu religi untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Awal Ramadhan terasa sangat flat, dunia berputar begitu saja tanpa adanya perbedaan antara Ramadhan dan bulan yang lainnya.

Saya, yang merasa penasaran dengan hal ini, langsung bertanya kepada rekan saya yang warga Negara Malaysia. Menurut dia minimnya lantunan lagu religi ketika awal Ramadhan karena tidak banyak artis lokal yang memproduksi lagu religi. Sehingga tidak banyak pemutaran lagu religi di media cetak/elektronik maupun di pusat-pusat keramaian. Jika dibandingkan antara lagu Ramadhan dengan Idul Fitri, sebenarnya masih lebih banyak lagu religi yang berkaitan dengan Idul Fitri. Namun pemerintah setempat melarang pemutaran lagu Idul Fitri di awal Ramadhan. Hal ini dikarenakan supaya masyarakat tetap fokus dan khusyuk dalam menjalankan ibadah Ramadhan terlebih dahulu tanpa adanya bayang-bayang tentang hari raya Idul Fitri. Lagu-lagu ini sebenarnya akan banyak diputar di media cetak/elektronik dan di pusat keramaian setelah melewati puasa ke-15.

Ini Bedanya Ramadhan di Malaysia dengan IndonesiaMasjid Jamek Kuala Lumpur (Ahmad Sururi/Istimewa)
Hal unik lain yang berkaitan dengan Ramadhan di Malaysia ialah kebijakan terhadap masyarakat muslim yang sedang beribadah puasa. Bagi mereka yang beragama Islam, jangan sekali-kali terlihat di depan umum sedang makan atau minum. Jika tidak, akan ada petugas dari Jabatan Agama Islam setempat yang akan menangkap dan mengarak orang tersebut keliling kota menggunakan mobil jenazah. Bagai jatuh tertimpa tangga, selain diarak orang tersebut juga akan mendapatkan denda maksimum 3.000 ringgit.

*) Ahmad Sururi merupakan mahasiswa Master of Educational Psychology di International Islamic University Malaysia yang juga merupakan anggota Divisi Gerakan Komisi Pendidikan PPI Dunia 2018-2019
*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama detikcom dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia).

***

Para pembaca detikcom, bila Anda juga mahasiswa Indonesia di luar negeri dan mempunyai cerita berkesan saat Ramadhan, silakan berbagi cerita Anda 300-1.000 kata ke email: ramadan@detik.com cc artika@ppidunia.org dengan subjek: Cerita PPI Dunia. Sertakan minimal 5 foto berukuran besar karya sendiri yang mendukung cerita dan data diri singkat, kuliah dan posisi di PPI. (fay/fay)