Cerita Berkesan Ramadhan

Mengenalkan Islam Kepada Warga Melbourne

Siti Nurlaila Indriani - detikNews
Selasa, 28 Mei 2019 13:48 WIB
Ucapan selamat Ramadhan oleh pemerintah setempat (Siti Nurlaila Indriani/Istimewa)
Melbourne - Puasa Ramadhan lebih singkat dijalani di selatan Bumi dalam musim dingin di Australia. Ini menjadi momen mengenalkan Islam di Negeri Kanguru.

Ramadhan di Melbourne di dua tahun terakhir berlangsung saat memasuki musim dingin. Waktu puasa yang lebih singkat dibanding Indonesia, yaitu kurang lebih 11-11,5 jam, ditambah suhu yang berkisar antara 5-19 derajat Celsius membuat puasa tidak terlalu sulit untuk dijalani.

Namun menjalani puasa di tempat dimana muslim adalah minoritas memiliki tantangan tersendiri. Ada sekitar 500.000 populasi muslim dari 4,9 juta penduduk di Melbourne yang berasal dari sekitar 60 negara. Untuk jumlah muslim di kampus-kampus sendiri lebih beragam, contohnya di RMIT University, ada sekitar 5.000 muslim dari sekitar 82.880 total mahasiswa. Sehingga umat muslim adalah entitas yang cukup kecil dibanding jumlah penduduk di Melbourne.

Hari libur nasional untuk hari raya pun jelas tidak ada, begitu juga dengan hari-hari Ramadhan. Semua aktivitas berjalan seperti hari-hari biasa. Namun, tidak jarang juga bagaimana masyarakat-masyarakat lain juga mengetahui, menghargai, memberikan ucapan, dan mengadakan acara untuk memperingati Ramadhan ataupun hari raya. Momen ini juga sebagai ajang mengenalkan Islam kepada masyarakat yang tinggal dimana Islamophobia masih terjadi terutama pasca terjadinya tragedy di Christchurch.

Mengenalkan Islam Kepada Warga MelbourneBuka puasa dari RMIT University Islamic Community (Siti Nurlaila Indriani/Istimewa)
Tidak jarang masyarakat atau siapapun yang ingin mengetahui Islam dan ingin belajar mengenai Islam akan datang ke Islamic Centre ataupun event-event yang sedang berlangsung. Pada Ramadhan kedua saya di Melbourne, belum genap 17 hari puasa di bulan Ramadhan, namun saya telah mengetahui dan sebagian menyaksikan langsung bagaimana 5 orang menjadi mualaf di tempat-tempat yang berbeda.

Mualaf pertama bersyahadat ketika berada di acara Ramadhan Family Day yang diselenggarakan oleh Madania di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Melbourne. Lalu mualaf kedua mengucapkan syahadat di Islamic Council of Victoria (ICV) yang memiliki bangunan 3 tingkat sebagai Islamic Centre. Buka puasa gratis setiap hari dan tarawih berjamaah dilakukan di tempat ini.

Mualaf ketiga mengucapkan dua kalimat syahadat di Surau Kita, salah satu Islamic Centre dari Indonesian Muslim Community of Victoria (IMCV), yang menyelenggarakan tarawih berjamaah dan buka gratis di akhir pekan. Mualaf keempat saya temui di acara buka Bersama di KJRI yang diselenggarakan oleh YIMSA (Youth Indonesian Muslim Student Association) dan MYSK (Muslim Youth Seeking Knowledge), yaitu seorang perempuan asal Vietnam yang telah memakai hijab dan gamis dalam kesehariannya saat ini.

Mualaf kelima, yaitu seseorang berkebangsaan Australia, mengucapkan syahadat di course akhir pekan yang diadakan oleh salah satu muslim community di Melbourne. Ternyata pesona Ramadhan tidak hanya dirasakan oleh muslim yang jumlahnya minoritas di kota berjuluk The Most Liveable City in 2017 ini.

Mengenalkan Islam Kepada Warga MelbourneRamadhan Family Day di Melbourne oleh Madania Foundation (Siti Nurlaila Indriani/Istimewa)
Bukan hanya individu saja yang tertarik dengan bagaimana muslim di Melbourne merayakan Ramadhan, namun juga komunitas dan organisasi yang ada di Melbourne. Salah satu organisasi di Melbourne pun mendatangi ICV sebagai Islamic Centre di Melbourne untuk memberikan sosialisasi dan beramah tamah di agenda buka puasa. Hal yang menarik adalah para wanita yang hadir turut memakai syal untuk menutupi kepala. Mereka mengatakan, "Do we already look like a muslim woman?"

Di acara buka bersama itu pula, dialog-dialog mengenai apa saja kegiatan yang ada di Islamic Centre dan apa itu ibadah, salat, dan Ramadhan terjadi. Di suatu acara grand iftar yang diadakan di oleh muslim community di RMIT University, ada beberapa orang yang datang karena mereka mengatakan sehabis peristiwa di Christchurch, muslim juga memerlukan dukungan. Momen Ramadhan juga dapat menjadi ajang mengenalkan komunitas-komunitas muslim di Melbourne. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya agenda-agenda Iftar dan Ied di Facebook Event di sekitar Melbourne.

Peran muslim di negara-negara minoritas muslim bisa bertambah, bukan hanya melakukan puasa dan meningkatkan keimanan dan pengetahuan melalui kajian, talks, course, dan berbagai event, tapi juga menguatkan saudara-saudara muslim lain agar tetap dalam keimanan dan menjadi agen muslim yang baik saat ada yang ingin mengenal Islam lebih jauh. Di berbagai forum atau salat tarawih berjamaah ataupun buka puasa bersama, berkenalan dengan muslim-muslim lain dan bercerita tentang bagaimana tetap mencari pengetahuan Islam dan melakukan ibadah di tengah-tengah aktivitas.

Mengenalkan Islam Kepada Warga MelbourneBersama salah satu mualaf dari Vietnam (kedua dari kiri) (Siti Nurlaila Indriani/Istimewa)
Di berbagai ceramah juga dikatakan bagaimana orang-orang melihat dan menilai Islam dari pribadi-pribadi muslim, maka menjadi pribadi yang baik akan membuat orang-orang menilai Islam juga baik. Pada akhirnya Ramadhan di Melbourne akan memberikan berbagai pengalaman di luar aktivitas sehari-hari seperti menjadi mahasiswa atau pekerja, dari ada program feeding homeless dari Islamic community, menjadi volunteers berbagai event dan juga Itikaf di 10 hari Ramadhan juga diadakan. Muslim-muslim Indonesia juga menjadikan agenda Ramadhan untuk merangkul dan meningkatkan persaudaraan juga mengenalkan Islam ke masyarakat sekitar.

*) Siti Nurlaila Indriani adalah mahasiswa Master of Engineering (Sustainable Energy) RMIT University dan Ketua Biro Kelembagaan PPI Dunia
*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama detikcom dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia).

***

Para pembaca detikcom, bila Anda juga mahasiswa Indonesia di luar negeri dan mempunyai cerita berkesan saat Ramadhan, silakan berbagi cerita Anda 300-1.000 kata ke email: ramadan@detik.com cc artika@ppidunia.org dengan subjek: Cerita PPI Dunia. Sertakan minimal 5 foto berukuran besar karya sendiri yang mendukung cerita dan data diri singkat, kuliah dan posisi di PPI.

(fay/fay)