YLKI: Kenaikan Tarif Transportasi Tidak Rasional
Jumat, 07 Okt 2005 07:24 WIB
Jakarta - Kenaikan harga BBM berdampak terhadap naikknya tarif transportasi di Jakarta. Terkait dengan hal ini Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengkritik kenaikan tarif transportasi yang dinilainya cukup tinggi."Persoalannya ada pada besaran kenaikan yang mencapai 45 persen, itu tidak realistis," kata pengurus harian YLKI Tulus Abadi, ketika dihubungi detikcom Jumat (7/10/2005).Menurut Tulus, komponen BBM di angkutan umum tidak terlalu signifikan mempengaruhi kenaikan tarif. Seharusnya pemerintah juga harus memberikan insentif kepada penumpang. "Tapi ini tidak terjadi. Tidak adil jika semua ditanggung penumpang," tambahnya.Tulus menjelaskan salah satu faktor yang menyebabkan kenaikan tarif transportasi adalah tingginya pungutan liar (pungli) terhadap angkutan umum. Pemerintah juga diminta untuk menekan pos pungli ini."Angkutan banyak keluar uang untuk 'pos pungli', baik yang dilakukan oleh pihak yang berseragam seperti Dishub atau polisi dan para preman," cetusnya.Sehingga jika pemerintah mampu menekan ketidakefisienan itu maka kenaikan tarif transportasi tidak akan sebesar itu. "Paling hanya 15 persen saja," urai Tulus.Tulus juga menuding kenaikan tarif transportasi di Jakarta yang dilakukan oleh pemerintah lebih karena kepentingan operator semata. "Kepentingan konsumen sepertinya diabaikan," geramnya.Terkait rencana kenaikan tarif bus way, Tulus menyatakan jika benar itu terjadi maka, pemerintah DKI Jakarta dinilai tidak konsisten dengan pernyataannya. "Bus way itu kan disubsidi. Kebijakan ini juga menandakan pemerintah tidak pernah memperhatikan aspirasi publik," tandasnya.
(ahm/)











































