Pascakenaikan Harga BBM, Daya Beli Warga Ambon Menurun
Kamis, 06 Okt 2005 23:30 WIB
Ambon - Empat hari setelah kenaikan bahan bakar Minyak (BBM) di Ambon, daya beli masyarakat akan BBM mulai menurun. Kondisi ini ditemukan di dua SPBU yang ada di Kota Ambon, masing-masing SPBU Belakang Kota dan SPBU Galala.Hal ini dibenarkan pengawas SPBU Belakang Kota, Ricky, yang ditemui detikcom, Kamis (5/10/2005), saat mengawasi isian BBM terhadap sejumlah kenderaan. "Sejak empat hari ini, daya beli masyarakat akan BBM di SPBU kami menurun. Ini terlihat dari isian BBM di pangkalan SPBU," kata Ricky.Dikatakannya, biasanya pemilik kendaraan bermotor mengisi premium empat liter hingga lima liter. Saat kenaikan BBM, rata-rata mengisi dua liter saja. Hal yang sama dilakoni pemilik kenderaan roda empat. "Biasanya para pengemudi angkot mengisi 20 liter hingga 30 liter. Saat ini hanya isi 10 hingga 15 liter," tutur Ricky.Turunnya daya beli BBM berpengaruh terhadap omzet penjualan SPBU ini. Sebelum kenaikan BBM, SPBU ini dapat meraih omzet hingga Rp 23 hingga 25 juta per hari. Namun pascakenaikan omzet yang diperoleh hanya Rp 13 juta hingga 15 juta per hari."Kami mengalami penurunan omzet hingga 45 persen," keluh Ricky.Kondisi ini tak beda jauh dengan SPBU Galala. Menurut pengawas SPBU Galala, Alven, yang ditemui di ruang kerjanya, Siang ini, mengungkapkan, pihaknya mengalami penurunan omzet penjualan hingga kisaran 40 persen. Sebelumnya, omzet yang diperoleh per hari berkisar Rp 20 juta. Namun dampak penurunan daya beli BBM membuatnya pihaknya hanya meraih sekitar Rp 10 juta per hari.Sementara itu situasi antrian masih terus terjadi. Namun waktu antrian hanya terjadi sejak pukul 18.00 hingga pukul 22.00 Wit. Ini pun hanya terjadi di SPBU Belakang Kota Ambon.Pasca kenaikan BBM, harga BBM ditingkat pengecer sangat bervariasi. Harga berkisar Rp 2.500 hingga Rp 3.000 untuk minyak tanah. Sementara premium harga berkisar antara Rp 4.700 hingga Rp 5.000 per liter.Kendati demikian, hampir semua pangkalan pengecer sejak empat hari ini tidak menjual BBM, karena keterbatasan stok BBM di Pertamina Cabang Ambon. "Kami belum menjual sejak hari Senin lalu, tak ada distribusi ke kami. Hingga kini kami masih menunggu," kata Safwan Abdullah, pengecer di Bekalang kota Ambon.Hal yang sama di alami Benekditus Lilipali, pengecer di Jl Rijali Karang Panjang Ambon. "Belum ada stok bensin dan solar yuang masuk. Kosong sama sekali," ujarnya.Dana Kompensasi DibagikanDi lain pihak dana kompensasi BBM kepada masyarakat miskin di kota Ambon sejak kemarin mulai dibagikan. Sayangnya pembagian ini masih menyisahkan persoalan. Sejumlah warga miskin yang belum terdata juga menyerbu kantor Pos Cabang Ambon."Hari ini sudah dibagikan dana kompensasi BBM. Tapi hingga hari ini juga kami tidak terdata. Dan bukan saja kami. Beberapa tetangga kami juga tidak terdata," ujar Salomina Tahalele (46), warga dusun Ahuru, Karang Panjang Ambon kepada detikcom saat meminta keterangan di Kantor Pos.Alhasil, pihak kantor Pos menurut Salomina, mengatakan bukan kewenangan Pos dalam pendataan. Salomina disuruh untuk menanyakan ke kelurahan atau camat setempat."Mereka bilang itu bukan kewenangannya. Saya disuruh menanyakan ke lurah atau camat," ujarnya.Nasib Salomina tak bedanya dengan Titus Wattimena (49) warga dusun Batu Gantung Ganemo. "Jangankan mendata, jalan ke tempat tinggal kami saja tidak," kata Titus kesal.Dikatakan Titus, hal ini sebenarnya sudah disampaikan ke kepala dusun maupun pihak Kelurahan, namun tidak ditanggapi serius. "Kami disuruh ke kantor statistik," ujar Titus meniru pernyataan kepala dusunnya.Sementara itu buntut kenaikan harga BBM, tarif angkot di kota Ambon naik hingga 50 persen. Kenaikan ini didasarkan atas keputusan Walikota Ambon, MJ Papilaja. Kenaikan ini juga diberlakukan bagi para pelajar dan mahasiswa.
(ahm/)











































