detikNews
Senin 27 Mei 2019, 08:32 WIB

KPPAD Kalbar: Kasus Audrey Berlanjut ke Pengadilan

Arief Ikhsanudin - detikNews
KPPAD Kalbar: Kasus Audrey Berlanjut ke Pengadilan Foto: Ilustrasi: Fuad Hashim
Jakarta - Masih ingat dengan kasus dugaan kekerasan terhadap A, seorang siswi SMP di Pontianak? Kini kasusnya bakal berlanjut ke persidangan.

"Sekarang ke pidana, ke sistem peradilan pidana anak," kata Ketua KPPAD Kalbar Eka Nurhayati saat dihubungi, Minggu (26/5/2019).

Dia mengatakan KPPAD tetap mendampingi tiga tersangka yakni Ar, Ec alias NNA, dan Ll, serta korban saat di proses pengadilan berjalan. KPPAD Kalbar, kata Eka, tidak akan berpihak ke tersangka atau korban.

"Kami dampingi korban dan pelaku, dua-duanya kami dampingi. Sampai kasus clear, kasus tidak seperti yang dihebohkan, itu yang kami sesalkan," ucap Eka.

Sebenarnya, sempat ada proses untuk diversi atau pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat 7 UU Nomor 11 Tahun 2002 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Namun, proses diversi itu disebut gagal.

Proses diversi disebut terjadi pada 14 dan 23 Mei 2019. Pada tanggal 14 Mei, para pihak disebut sepakat ada perdamaian dengan beberapa permintaan dari keluarga korban.

"Permintaaan maaf keluarga pelaku di 4 media cetak, Suara Pemred, Tribun Pontianak, Pontianak Post, Harian Berkat dan 4 media elektronik, Berkatnews, Kompas, TV One, Metro TV, selama 3 hari berturut-turut. Keluarga pelaku mendatangi keluarga korban untuk silaturahim. Pemantauan program pelayanan masyarakat di Bapas," ucap Komisioner KPPAD Kalbar, Alik R Rosyad saat dihubungi terpisah.

Namun, pada 23 Mei, keluaga pelaku menyatakan tidak sanggup memenuhi keinginan keluarga korban. Biaya dianggap menjadi kendala.

"Keluarga anak pelaku menyatakan ketidaksanggupan untuk permintaan maaf di media seperti yang diinginkan keluarga korban karena besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk memenuhi tuntutan tersebut," ucap Alik.

"Selain itu, dalam proses diversi, karena keluarga korban juga menambahkan permintaan penggantian biaya pengobatan rumah sakit," sambungnya.

Mediator dari hakim Pengadilan Negeri Pontianak disebut sudah mengusulkan agar jumlah media dikurangi. Tapi, menurut Alik, pihak keluarga korban menolak.

"Sehingga pada akhirnya tidak ada kesepakatan. Dengan demikian, proses diversi dinyatakan gagal dan dilanjutkan ke persidangan." kata Alik.

KPPAD Kalbar disebutnya akan mengawal sidang demi memasikan anak korban dan anak pelaku terpenuhi hak-haknya dalam persidangan. Beberapa hal yang diperhatikan seperti pendampingan keluarga saat persidangan.

"Memastikan anak korban dan anak pelaku terpenuhi hak-hak-nya dalam persidangan. Seperti didampingi oleh keluarga, atau orang dewasa lainnya. Dan juga ketentuan persidangan lainnya semisal yang mewajibkan hakim dan jaksa melepas toga atau seragamnya. Untuk hal terakhir sudah biasa dalam persidangan di PN Pontianak yang melibatkan anak," ucap Alik.

Kasus dugaan kekerasan terhadap A ini sebelummya sempat menjadi sorotan hingga mengundang reaksi luas dan memunculkan petisi Justice For Audrey. Tagar JusticeForAudrey di Twitter juga sempat menduduki posisi nomor 1 di Indonesia dan dunia pada Selasa (9/4).

Terkait kasus ini, Polresta Pontianak sudah melakukan visum terhadap korban. Ada tiga orang tersangka dugaan kekerasan yang sudah ditetapkan polisi, yakni Ar, Ec alias NNA, dan Ll.

"Tetapi fakta yang ada itu menjambak rambut, mendorong sampai terjatuh, memiting, dan melempar sandal. Itu ada dilakukan dan tidak ada tindakan melukai alat kelamin," kata Kapolresta Pontianak Kombes Anwar Nasir, Rabu (10/4).

Terkait kasus ini Polda Kalbar telah menerima laporan dari KPPAD Kalbar soal akun yang diduga menyebarkan cerita mengenai kasus yang dialami A secara tidak proporsional. Akun tersebut diduga menyebarkan cerita yang tidak semuanya benar, di antaranya cerita mengenai kerusakan alat intim dari akibat kekerasan oleh para tersangka kepada A.

"Jadi saat ini kan sedang didalami oleh Ditkrimsus Polda Kalbar. Apalagi dari KPPAD Kalbar sudah datang ke Polda Kalbar, mengadukan salah satu akun," kata Kabid Humas Polda Kalimantan Barat AKBP Donny Charles kepada detikcom, Kamis (11/4).


Mereka di Barisan Pendukung Audrey, Bagaimana Hukum Ditegakkan?:

[Gambas:Video 20detik]


(aik/haf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed