BPS Solo Tutup & Dijaga Polisi

Kisruh Kompensasi BBM

BPS Solo Tutup & Dijaga Polisi

- detikNews
Kamis, 06 Okt 2005 17:30 WIB
Solo - Kompensasi BBM Rp 300 ribu untuk tiga bulan melahirkan kekisruhan baru. Karena khawatir diserbu massa yang marah karena kecewa terhadap distribusi kartu kompensasi BBM (KKB), kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Solo ditutup untuk beberapa hari terakhir. Selain itu penjagaan juga dilakukan oleh aparat kepolisian untuk menghindari aksi perusakan.Seperti di beberapa daerah lainnya, distribusi kartu miskin untuk penerima kompensasi kenaikan harga BBM di Solo juga cukup ruwet. Banyak warga yang merasa lebih miskin protes karena tidak mendapatkan kartu sedangkan yang dianggap lebih mampu justru memperolehnya. Selasa lalu puluhan warga Kalurahan Tipes, Solo, melabrak petugas yang membagikan dana kompensasi BBM. Mereka marah, karena merasa lebih miskin dariorang-orang yang saat itu mengantre dana bantuan. Mereka tidak mendapat jatah kartu itu, sedangkan para pengantre memilikinya.Penutupan kantor BPS itu bukan berarti seluruh aktivitas pendataan berhenti. Kepala BPS Kota Surakarta Karyoto mengatakan, kantornya memang ditutupuntuk lebih dapat berkonsentrasi mengolah data dalam kaitannya pemberian dana kompensasi BBM kepada warga miskin di Solo.Sedangkan penjagaan oleh polisi dimaksudkan untuk menghindarkan terjadinya ekses buruk karena banyaknya warga yang mengaku miskin mendatangi kantor BPS untuk melakukan protes karena tidak terdata sebagai penerima dana kompensasi kenaikan harga BBM."Senin lalu ada sekitar seratus warga yang datang. Selasa malam ada juga sekitar 30 orang yang datang untuk memprotes kami. Sebetulnya hal seperti itu tidak perlu dilakukan. Kalau memang merasa miskin dan terlewat dari pendataan penerima kompensasi lebih baik segera mendaftarkan kepada lurahnya masing-masing," paparnya.Lagi pula, kata Karyoto, persetujuan penerima dana kompensasi dilakukan oleh Pemerintah Pusat. "Pendataan awal dulu di Kota Solo ini tercatat 28.837 keluarga yang diusulkan mendapat dana kompensasi, tetapi setelah turun hanya 22.219 keluarga sebagai penerima," lanjutnya. (nrl/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads