Warga Singapura Mirip Azahari Mengaku Asal Medan
Kamis, 06 Okt 2005 15:41 WIB
Sukabumi - Masnin Hasan Basri (52), warga Singapura yang berwajah mirip buron teroris Azahari, ditangkap saat menjaga warung kelontong miliknya. Namun, menurut istrinya, Masnin berasal dari Medan, bukan Singapura. Masnin (sebelumnya disebut Isman Husein-Red) ditangkap polisi di rumah kontrakannya di RT 08/RW 05, Kampung Benteng, Desa Kuta Jaya, Kecamatan Cicurug Sukabumi, Jawa Barat pada 4 Oktober 2005 pukul 10.00 WIB."Suami saya ditangkap hari Selasa jam 10 pagi sewaktu jaga warung. Saya sedang tidur-tiduran. Suami saya diajak untuk dimintai keterangan," kata istri Masnin Hasan Basri (52), Lilis Rosafitri (32) kepada detikcom, di rumah kontrakannya, Kamis (6/10/2005).Berdasarkan pantauan detikcom, rumah Masnin bercat hijau dan berlantai keramik. Rumah kontrakan milik H Suwardi disewa Masnin dengan harga Rp 2,4 juta per tahun. Rumah yang baru ditempati Masnin dua minggu lalu itu terdiri dari dua kamar, satu gudang, satu kamar mandi, dan memiliki warung kelontong.Nikah Bawah TanganDi mata sang istri, Masnin merupakan pribadi yang tertutup. Pria paruh baya ini tidak banyak bercerita mengenai asal muasalnya."Saya menikah akhir September 1996 di bawah tangan di rumah kakak saya di Selabintana, Sukabumi. Sesudah menikah kami tinggal di Kampung Pasir Eurih, Kecamatan Parung Kuda, Sukabumi," kenang Lilis.Kepada Lilis, Masnin mengaku berasal dari Medan, sudah yatim piatu, dan tidak memiliki sanak saudara. Mereka dikaruniai seorang putra yang diberi nama Iman Sofi (9)."Saya tidak tahu dia dari mana. Kalau dulu waktu nikah dia tidak banyak komentar. Dulu kenalan, waktu saya main ke Jakarta. Dia bilangnya orang Medan," urai Lilis.Penangkapan Masnin Lilis mengaku sempat ditunjukkan surat penangkapan oleh polisi saat suaminya ditangkap. Saat itu, menurut Lilis, Masnin sedang tidak enak badan. Menurut dia, rumah kontrakannya pun telah digeledah sebanyak 3 kali oleh polisi. "Saya juga dua malam dimintai keterangan di Polsek Cicurug," ujar Lilis yang mengenakan daster warna hitam putih dan tidak berkerudung ini. Namun demikian, Lilis mengaku pendapatannya tidak berkurang menyusul penangkapan Masnin. "Sehari bisa dapat sekitar Rp 170 ribu. Pembeli tetap datang. Malah kalau warung tutup banyak yang tanya," kata Lilis dengan logat Sunda yang kental.Sebelumnya Masnin pernah bekerja sebagai kuli elektronik di Batam. Namun dia diberhentikan pada 1999.
(aan/)











































