DetikNews
Jumat 24 Mei 2019, 15:13 WIB

Siswa SMA di NTB Tak Diluluskan karena Kritisi Sekolah, KPAI Turun Tangan

Jabbar Ramdhani - detikNews
Siswa SMA di NTB Tak Diluluskan karena Kritisi Sekolah, KPAI Turun Tangan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) (Foto: Matius Alfons/detikcom)
Jakarta - Seorang siswa SMA di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), tak diluluskan karena bersikap kritis terhadap kebijakan sekolah. Terkait kabar ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) langsung melakukan pengecekan ke lokasi.

"KPAI sudah melakukan pengawasan ke Sembalun. Rapat bersama pihak sekolah, Dinas Pendidikan, Kemdikbud," kata Wakil Ketua KPAI, Rita Pranawati, saat dihubungi, Jumat (24/5/2019).

Siswa yang tidak diluluskan bernama Aldi Irpan, siswa SMAN 1 Sembalun. Rita mengatakan Aldi tidak diluluskan karena bersikap kritis terhadap kebijakan sekolah.


Sikap kritis Aldi membuatnya tidak diluluskan. Rita mengatakan respons sekolah terhadap sikap Aldi tidak tepat.

"Masalahnya ada di cara pandang sekolah terhadap anak. Sebenarnya kan tiap anak penting didengar pendapatnya. Jangan dianggap kejelekan, tapi harus dianggap diskusi, jangan dianggap sebagai musuh," tuturnya.

Dikonfirmasi terpisah, Komisioner KPAI bidang pendidikan, Retno Listyarti, mengatakan sudah melakukan pengecekan langsung ke Sembalun. Selain ikut rapat dengan pemegang kebijakan, Retno juga sempat mewawancarai pihak keluarga Aldi dan rekannya.

Retno mengatakan Aldi merupakan siswa yang dituakan teman-temannya. Sikap kritis yang disuarakan Aldi bukan semata-mata atas hak pribadi, melainkan mewakili aspirasi teman-temannya.


"Mereka itu memang menganggap Aldi itu pemimpin. Jadi kalau ada apa-apa, mereka mengadu ke Aldi. Karena yang berani bersuara Aldi," ucap Retno.

Dia menambahkan, sikap kritis ditunjukkan Aldi bukan hanya baru-baru ini. Retno melihat ada cara respons yang berbeda saat terjadi pergantian kepala sekolah.

"Bukan cuma sama kepala sekolah ini, sama kepala sekolah sebelumnya, Aldi juga bersuara. Cuma kepala sekolah sebelumnya lebih kooperatif sehingga tidak seperti ini, Sehingga terjadilah benturan," tuturnya.

Retno mengatakan, tidak ada alasan untuk tidak meluluskan Aldi. Pasalnya, secara akademik, nilai Aldi pun baik.


Retno menjelaskan Aldi tidak diluluskan karena sikap kritis yang ditunjukkan pada periode Januari-Maret 2019. Retno melihat sikap kritis Aldi muncul karena kondisi cuaca di Sembalun.

"Keberatan AL terhadap kebijakan sekolah terjadi karena dipicu 30 ketentuan yang dibuat secara sepihak oleh kepala sekolah tanpa proses musyawarah dan sosialisasi, diantaranya memulangkan siswa yang terlambat, tidak boleh mengenakan jaket di sekolah, dan lain-lain," ujarnya.

"Kedua kebijakan itu yang di protes AL dkk bukan tanpa alasan, mengingat dinginnya udara pada musim hujan di Sembalun, persis di kaki gunung Rinjani dan jalan menuju sekolah yang rusak dan sulit dilalui ketika diguyur hujan," imbuhnya.

Dia mengatakan tidak diluluskannya Aldi jadi indikasi pembungkaman terhadap hak partisipasi anak di sekolah. Padahal berdasarkan UU 35/2014 tentang Perlindungan Anak, suara anak harus didengar dan partisipasi anak dijamin UU.
(jbr/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed