Ayah Ilyas: Saya Seperti Sudah Jatuh Tertimpa Tangga

Ayah Ilyas: Saya Seperti Sudah Jatuh Tertimpa Tangga

- detikNews
Kamis, 06 Okt 2005 13:14 WIB
Jakarta - Malang benar keluarga almarhum Ilyas Salim (20 bulan), korban suspect flu burung yang meninggal di RSPI Sulianti Saroso. Mereka sedang dalam keadaan sedih, eh masih ditarik pungutan biaya oleh pihak-pihak terkait."Air mata saya sudah habis. Saya juga seperti sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah anak saya meninggal, masih dimintai biaya," begitu kata Abdul Rosyid (32), ayah Ilyas Salim, usai pemakaman anaknya.Jenazah Ilyas dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Budi Dharma, Semper, Jakarta Utara, sekitar pukul 11.00 WIB, Kamis (6/10/2005). Pemakaman dihadiri puluhan pelayat, sebagian adalah anak-anak.Sedangkan ibu Ilyas, Siti Maemunah, mengaku sedih dan tak bisa berkata apa-apa lagi. "Anak saya masih terbayang di pelupuk mata," ujarnya.Sebelumnya, karena ketiadaan biaya, pihak keluarga membawa jenazah Ilyas dari RSPI Sulianti Saroso tanpa peti. Padahal sesuai prosedur yang berlaku, jenazah suspect flu burung atau penderita penyakit penular lainnya, setelah dibungkus kain kafan dan dilapisi plastik, jenazah harus dimasukkan dalam peti yang tertutup rapat.Rosyid yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang ojek sepeda, mengaku tidak punya uang untuk biaya pemandian, kafan, dan peti sebesar Rp 1,4 juta seperti yang diminta petugas jenazah bernama Sunjaya.Rosyid mengaku penghasilannya sangat minim, Rp 15 ribu per hari. Saat diminta tagihan Rp 1,4 juta, dia hanya sanggup menyediakan Rp 450 ribu. Dengan dana yang sebagian diperoleh dari mertuanya itu, jenazah Ilyas akhirnya tidak dimasukkan ke dalam peti.Ketika flu burung merebak, Menkes Siti Fadilah Supari menegaskan pemerintah tetap akan menggratiskan biaya pengobatan pasien yang diduga terinfeksi virus flu burung. Namun tidak dirinci apakah itu termasuk ongkos pemakaman. (gtp/)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini