DetikNews
Senin 20 Mei 2019, 09:32 WIB

Fadli Zon Sebut Rencana Demo 22 Mei Ditakuti Isu Bom, Ini Kata BPN

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Fadli Zon Sebut Rencana Demo 22 Mei Ditakuti Isu Bom, Ini Kata BPN Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menjelaskan maksud pernyataan anggota Dewan Pengarahnya, Fadli Zon yang menyebut pihak yang ingin demo pada 22 Mei 2019 ditakut-takuti isu adanya teror bom. BPN menjelaskan Fadli hanya mendorong pihak kepolisian untuk bekerja sesuai semboyan Polri.

"Bang Fadli itu bermaksud mendorong polisi sesuai dengan semboyannya, 'melindungi dan mengayomi'. Jadi, maksud Bang Fadli itu kalau ada pelaku teroris silakan diproses hukum. Karena filosofi polisi itu kan semboyannya 'melindungi dan mengayomi', tentu harapan kita seperti itu," kata juru bicara BPN Prabowo-Sandiaga, Andre Rosiade kepada wartawan, Senin (20/5/2019).

Menurut Andre, sudah menjadi tugas kepolisian untuk mengungkap pelaku teroris. Andre berharap polisi mampu mengamankan aksi 22 Mei 2019 mendatang agar bisa berjalan damai dan kondusif tanpa anarkis.


"Saya tidak ingin berpolemik di antara pendapat yang ingin menakut-nakuti atau ini benar adanya rencana teror. Yang penting, kalau seandainya ada rencana teror, kita tentu mendorong pihak kepolisian melakukan penegakan hukum agar pelaku teroris itu bisa ditangkap sehingga aksi 22 Mei ini bisa berjalan dengan aman, damai, kondusif, dan tanpa anarkis," ucapnya.

Politikus Partai Gerindra ini mendorong polisi untuk fokus mengungkap rencana terorisme agar rencana aksi pada 22 Mei bisa berlansung aman dan damai. Andre pun menilai Fadli maupun polisi sama-sama memiliki niat baik.

"Saya rasa maksud kedua pihak itu baik ya. Bang Fadli berkeinginan polisi kalau memang ada pelaku teroris, tangkap saja, tanpa perlu diumbar ke masyarakat, 'ini rencananya untuk membom 22 Mei'. Polisi kan juga punya maksud ingin mengungkap itu. Jadi kita tidak usah berpolemik dengan dua pernyataan itu, fokus saja bagaimana polisi bisa mengamankan aksi secara damai dengan menangkap pelaku teroris. Kan intinya itu," ungkap Andre.


Sebelumnya, Wakil Ketua DPR Fadli Zon menilai ada intimidasi terhadap rencana sejumlah pihak yang ingin menggelar demonstrasi pada 22 Mei 2019. Salah satunya, kata Fadli, pihak yang ingin demo itu ditakut-takuti isu adanya teror bom.

"Hak rakyat untuk menyatakan pendapat, misalnya memprotes kecurangan Pemilu, bahkan bukan hanya telah dihalang-halangi, tapi mengalami intimidasi sedemikian rupa. Ancaman itu selain terlontar dari sejumlah menteri juga aparat kepolisian. Terakhir bahkan masyarakat yang ingin memprotes kecurangan Pemilu pada 22 Mei nanti ditakut-takuti dengan kemungkinan adanya aksi teror bom oleh teroris. Selain itu, ada sweeping, razia, dan pencegahan masyarakat yang akan datang ke Jakarta," kata Fadli kepada wartawan, Minggu (19/5/2019).

Dia menyebut hal itu sudah kelewatan. Fadli mengatakan polisi seharusnya melindungi masyarakat yang disebutnya ingin menuntut hak-hak konstitusionalnya.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menjawabnya dengan data penangkapan sejumlah teroris oleh tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror. Total ada 29 tersangka teroris yang ditangkap dari 5 jaringan. Kelima jaringan itu terdiri dari 8 orang jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Lampung, 2 orang JAD Bekasi, 11 orang JAD Jawa Tengah, 2 orang JAD Firqoh Abu Hamzah, dan 8 orang JAD Jawa Barat.

"Ini fakta dan bukti sangat kuat kalau mereka akan menyerang kumpulan massa dalam jumlah yang besar," kata Dedi.


Simak Juga "Polisi Tetap Antisipasi Gangguan Lain di Aksi 22 Mei":

[Gambas:Video 20detik]


(azr/mae)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed