DetikNews
Minggu 19 Mei 2019, 15:53 WIB

Pansel KPK Pernah Gugat Laundry, Ngabalin: Mari Berprasangka Baik

Andhika Prasetia - detikNews
Pansel KPK Pernah Gugat Laundry, Ngabalin: Mari Berprasangka Baik Mualimin Abdi, yang pernah menggugat laundry, masuk Pansel Pimpinan KPK bentukan Presiden Jokowi. (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Dari sembilan nama pansel pimpinan KPK yang ditetapkan Presiden Joko Widodo (Jokowi), ada nama Mualimin, yang pernah menggugat sebuah usaha laundry karena jasnya kusut. Pihak Istana Kepresidenan mengajak publik berprasangka baik.

"Kalau diteliti satu per satu di negeri ini, manusia siapa yang tidak lolos dari berbuat khilaf dan keliru. Maksudnya, kita berprasangka baik. Presiden kan sudah menetapkan, kita berprasangka baik terhadap 9 orang ini. Semua orang punya catatan hitam. Tapi silih berganti waktu itu kan setiap orang selalu ingin memperbaiki diri," ujar Tenaga Ahli Kedeputian IV Kantor Staf Presiden Ali Mochtar Ngabalin saat dimintai konfirmasi, Minggu (19/5/2019).


Dijelaskan Ngabalin, Jokowi memiliki sejumlah pertimbangan untuk menetapkan kesembilan pansel pimpinan KPK. Ia tetap percaya tim akan bekerja secara profesional untuk menyeleksi calon komisioner KPK sebelum diuji DPR.

Tenaga Ahli Kedeputian IV KSP Ali Mochtar Ngabalin.Tenaga Ahli Kedeputian IV KSP Ali Mochtar Ngabalin. (Ristu Hanafi/detikcom)

"Kita mesti, pertama, berprasangka baik bahwa pemerintah dalam menetapkan pansel ini tentu punya pertimbangan-pertimbangan berdasarkan kapabilitas pengalaman sehingga yang mau saya teruskan, tak perlu khawatir dan tak perlu merasa ada terkait dengan dominasi pihak-pihak mana pun karena tim ini disumpah untuk bisa secara independen melakukan seleksi para calon komisioner KPK," paparnya.


Seperti diketahui, Mualimin, yang kini menjabat Dirjen HAM Kemenkumham, memiliki sejumlah catatan di masa lalu. Ia pernah berperkara dengan laundry rumahan, Fresh Laundry, pada 2016 lantaran jasnya tidak licin. Mualimin pun mengajukan gugatan ke PN Jaksel dengan nilai gugatan mencapai Rp 210 juta atau hampir 20 kali lipat harga jasnya.

Belakangan, Mualimin menarik gugatannya setelah riuh di media massa. Ia meminta masyarakat tidak menggunjingkan hal itu lagi.

"Saya minta maaf atas permasalahan yang sudah ramai," ujar Mualimin.


Kasus itu bukan pertama yang membuat Mualimin dibincangkan publik. Dua tahun sebelumnya, ia mengikuti seleksi Dirjen Peraturan Perundangan. Nah, Wakil Menkumham kala itu, Denny Indrayana, menyebut Mualimin mencontek makalah.

"Saya sudah minta izin untuk menyalin makalah peserta lain tersebut," kata Mualimin seperti ditirukan Denny.

Dalam kesempatan terpisah, Jokowi meyakinkan bahwa pansel pimpinan KPK yang ia pilih merupakan sosok kredibel. Dia berharap tim pansel benar-benar memilih calon yang terbaik untuk bertugas di KPK.

"Kita harapkan ini kan panitia seleksi, beliau-beliau ini yang menyeleksi calon ketua, komisioner di KPK. Serahkan pada pansel, saya kira itu figur-figurnya sangat kredibel dan memiliki kapasitas untuk menyeleksi," kata Jokowi di sela kunjungannya di Pasar Badung, Denpasar, Bali, Sabtu (18/5).



Simak Juga 'ICW Desak Presiden Segera Bentuk Pansel Ketua KPK':

[Gambas:Video 20detik]


(dkp/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed