DetikNews
Jumat 17 Mei 2019, 13:33 WIB

Pengacara: Kami Duga dr Ani Hasibuan Ditarget di Kasus Hate Speech

Samsuduha Wildansyah - detikNews
Pengacara: Kami Duga dr Ani Hasibuan Ditarget di Kasus Hate Speech Foto: Samsuduha Wildansyah/detikcom
Jakarta - Tim pengacara dr Ani Hasibuan memprotes pemeriksaan kliennya dalam kasus dugaan hate speech terkait artikel 'Pembantaian Massal Petugas KPPS'. Pengacara menduga kliennya sudah ditargetkan dalam kasus tersebut.

"Kami duga Ibu Ani jadi target," kata Amin Fahrudin selaku kuasa hukum Ani Hasibuan kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (17/5/2019).

Amin menilai proses pemanggilan terhadap kliennya terlalu cepat. Dia menyebut polisi seolah 'kejar tayang' dalam memeriksa Ani Hasibuan.

"Kemudian soal pemeriksaan di Polda kalau dilihat media ini memuat 12 Mei, kemudian kalau diteliti proses penyidikan dilayangkan surat saksi, tapi ini dalam proses penyidikan itu tanggal 15 Mei 2019," katanya.

Hanya berselang 3 hari setelah dilaporkan, Ani kemudian dipanggil polisi.



"Artinya, dalam waktu tidak kurang 3 hari, proses hukum dilakukan sudah penyidikan. Kami duga ini ada kejar tayang karena sangat cepat itu, kemudian pada tanggal 17 Mei Bu Ani dapat panggilan saksi, tidak kurang seminggu proses ini dikejar," katanya.

Amin mengatakan, sebagai seorang dokter, kliennya juga punya kepedulian terhadap situasi politik. Amin khawatir kliennya dikriminalisasi.

"Kami nggak ingin seorang profesional seperti dokter Bu Ani yang punya kepedulian politik saat ini kemudian beliau dikriminalisasi, karena pemelintiran pernyataan di media. Pernyataan ini bukan resmi dari Bu Ani Hasibuan," tuturnya.

Hal yang sama diungkapkan Slamet Hasan, kuasa hukum Ani Hasibuan yang lain. Sebagai seorang dokter, kliennya hanya merasa prihatin atas banyaknya petugas KPPS yang meninggal.

"Sebenarnya Bu Ani hanya menyampaikan beliau sebagai profesional dokter yang melihat ada 500 lebih orang meninggal hampir serentak, tetapi dianggap begitu saja," kata Slamet.

"Beliau sebagai dokter menyerukan hati nuraninya, ini ada kematian yang banyak lebih dari 500 orang tapi tidak ada perhatian atau tidak ada statement dari negara tentang kematian yang hampir seluruhnya petugas KPPS," tambah Slamet.


(mea/mea)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed