DetikNews
Kamis 16 Mei 2019, 16:08 WIB

Wiranto: Saya Bolak-balik Kalah Nggak Apa-apa, Terima Kalah Itu Kehormatan

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Wiranto: Saya Bolak-balik Kalah Nggak Apa-apa, Terima Kalah Itu Kehormatan Menko Polhukam Jenderal (Purn) Wiranto. (Rengga Sancaya/detikcom)
Jakarta - Menko Polhukam Wiranto bicara soal pengalamannya kalah dalam kontestasi pilpres. Dia mengatakan kekalahan adalah hal yang lumrah dalam kompetisi.

"Wong kalah itu biasa kok. Dalam pertandingan, kalah-menang kan biasa. Saya katakan kalah itu menyakitkan, tapi menerima kekalahan itu kehormatan, bangkit dari kekalahan itu kekuatan," kata Wiranto dalam acara Rapat Koordinasi Tim Terpadu Penanganan Konflik, yang diadakan Kemendagri, di Hotel Paragon, Kamis (16/5/2019).

Wiranto dalam karir politiknya pernah maju di Pilpres 2004 bersama Salahuddin Wahid, dengan didukung Partai Golkar. Pada saat itu, Wiranto kalah pada periode pertama dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla (JK). Pada 2009, Wiranto maju lagi, tapi kala itu sebagai cawapres. Wiranto berpasangan dengan JK pada 10 tahun lalu.



Lagi-lagi, nasib Wiranto tidak moncer di Pilpres 2009. Berpasangan dengan JK, Wiranto duduk di posisi paling buncit, dibanding pasangan SBY-Boediono dan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto.

Kembali ke pernyataan Wiranto, pengalaman dua kali kalah di pilpres itu dijadikan pemantik untuk bangkit. Dia legowo. Sebab, menurutnya, tenaganya masih bisa digunakan untuk negara sebagai menteri yang saat ini dijabatnya.

"Saya punya pengalaman kalah bolak-balik ya ndak apa-apa, sehat-sehat aja. Saya konvensi Partai Golkar 2004 menang, ikut capres kalah, ikut cawapres dengan Pak Jusuf Kalla kalah lagi, ya ndak apa-apa. Tapi bangkit. Alhamdulillah masih jadi Menko Polhukam, masih bisa dipakai tenaganya oleh negara, masih laku," paparnya.



Dia bersyukur masih bisa mengabdi untuk negara meski bukan menjadi presiden.

"Itu bersyukur kan. Nggak mesti jadi presiden. Kalau semua jadi presiden, yang diperintah siapa? Ya presiden direktur boleh, tapi presiden Republik Indonesia cuma satu," tuturnya.

Wiranto mengingatkan, dalam Pilpres 2019 ini, jika ada yang tidak sesuai dengan hasil final pemilu, mereka bisa menempuh jalur hukum. Dia mengatakan jangan sampai ada pihak yang ingin menang dengan mengingkari hukum.

"Setiap ada masalah dalam pemilihan ini harus selesaikan jalur hukum. Sudah ada lembaga yang selesaikan masalah yang terjadi saat pemilu. Kalau kemudian finalisasi suara selisihnya nggak sesuai dengan hati nuraninya, ada MK. Sudah bagus itu. Tapi tatkala ada yang nggak mau kalah maunya menang saja, dan ingkari hukum, ini masalah," katanya.
(idn/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed