DetikNews
Kamis 16 Mei 2019, 09:31 WIB

Di Sudan, Kamu Tidak Akan Kelaparan Saat Ramadhan

Muhammad Faiz Alamsyah - detikNews
Di Sudan, Kamu Tidak Akan Kelaparan Saat Ramadhan Suasana buka puasa di Khartoum, Sudan (Muhammad Faiz Alamsyah/Istimewa)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadhan
Khartoum - Orang sering melihat miring kepada Afrika. Tapi jangan salah, di Sudan warganya tidak akan kelaparan selama Ramadhan. Inilah negeri para dermawan.

Dalam hadis dikatakan bahwa Rasulullah SAW merupakan orang yang paling dermawan, dan Beliau lebih dermawan lagi ketika masuk di bulan suci Ramadhan. Semangat kedermawanan ini yang bisa menjadi inspirasi untuk Indonesia.

Sekarang coba dibayangkan, apa rasanya berpuasa dengan suhu rata-rata 42 derajat Celcius di Sudan? Bumi yang gersang, hangat, ditambah tidak adanya es kelapa membuat rasanya sulit untuk berpuasa di tempat tersebut. Belum lagi masyarakat setempat menyebut es teh sebagai suatu hal yang mustahil. Terakhir kami menawarkan es teh kepada salah satu warga sekitar, ia langsung memuntahkannya dengan menyebut itu merupakan 'teh bid'ah'.

Di Sudan, Kamu Tidak Akan Kelaparan Saat RamadhanMasjid Mujamma Al Islami di Khartoum, Sudan (Muhammad Faiz Alamsyah/Istimewa)
Tetapi di balik itu semua, ada keberkahan tersendiri. Ada sebuah hal yang membuat Ramadhan begitu dicintai di negeri itu.

Pengalaman berpuasa di benua Afrika begitu menarik. Mayoritas negara di Afrika berpenghuni pemeluk agama Islam. Hal itu membuat kedatangan Ramadhan sangatlah mereka tunggu. Suasana setiap negara pun tentunya berbeda.

Ada suasana menarik yang kami lalui ketika menjalankan ibadah puasa Ramadhan di negeri dua Nil, Sudan. Sudan merupakan salah satu negara besar yang terletak di benua Afrika bagian utara. Sudan berbatasan langsung dengan Chad, Mesir, Eritrea, dan Ethiopia. Sudan menjadi negara terbesar ke-4 di Afrika dengan jumlah penduduk sekitar 38,5 juta jiwa, yang mana mayoritas penduduknya memeluk agama Islam.

Di seluruh penjuru Sudan, semua orang berbondong-bondong untuk memberikan iftar kepada semua yang berpuasa. Ini budaya Ramadhan di Sudan dari tahun ke tahun. Budaya yang luar biasa, bertajuk kedermawanan terhadap sesama. Bisa saja kita mengatakan secara logika bahwa harta mereka tak mampu untuk memberi hidangan berbuka kepada sesama selama 30 hari penuh. Mereka mungkin tidak kaya secara materi untuk mewujudkannya. Namun, hati mereka sangatlah kaya untuk melakukannya!

Di Sudan, Kamu Tidak Akan Kelaparan Saat RamadhanMakanan buka puasa bersama di Sudan (Muhammad Faiz Alamsyah/Istimewa)
Budaya berbuka puasa di Sudan adalah semua orang berbuka di luar rumah, beralaskan tikar yang tak terlalu besar. Pemandangan ini bisa dilihat di area terbuka di dekat Masjid Mujamma Al Islami atau Masjid Al Noor di Khartoum. Misalnya, lima keluarga yang tinggal berdekatan bersatu untuk berbuka di depan salah satu rumah di antara mereka. Rumah pertama yang menyediakan makanan pokok. Rumah kedua yang menyediakan minuman. Rumah ketiga yang menyediakan hidangan berbuka, dsb. Selama 30 hari mereka berganti tugas, demi melayani masyarakat sekitar.

Jika ada orang yang melewati tempat berbuka mereka, mereka tak segan untuk memaksanya berbuka bersama mereka. Ini tradisi begal Ramadhan di Sudan. Memaksa seperti mengancam. Jika ada yang tak mau untuk berbuka disana, mereka akan keras untuk memaksanya.

BACA JUGA: Cerita 'Begal Ramadan' dari Negeri Dua Nil Sudan

Ada salah satu tempat berbuka favorit pelajar Indonesia. Kami menamakan tempat ini dengan sebutan 'Bait Masya Allah'. Bait dalam bahasa Arab memiliki makna rumah, sedangkan kata Masya Allah kami ambil dari tulisan yang ada di rumah itu.

Pemilik rumah tersebut setiap harinya selama Ramadhan menyediakan hidangan berbuka di halaman rumahnya. Ini merupakan kebiasaan yang ia lakukan dari tahun ke tahun. Kami juga tak segan untuk senantiasa mampir di rumahnya, hehehe.

Mengapa dikatakan tempat favorit? Pemilik rumah menyediakan hidangan yang cukup istimewa setiap harinya. Pemilik rumah senantiasa menyediakan hidangan dengan lauk utama ayam dan daging. Rasanya pun lezat. Porsi yang disediakan tidak tanggung-tanggung, mungkin mencapai 150-200 porsi. Orang yang melewati rumahnya juga akan dipaksa untuk bergabung berbuka bersama mereka.

Belum lagi budaya salat Tarawih di Sudan. Salat Tarawih di mayoritas masjid besar hampir sama pelaksanaannya, 11 rakaat. Yang istimewa adalah setiap malamnya sang imam membaca satu juz, sehingga dalam 30 hari di bulan Ramadhan mereka membaca 30 juz Al Quran.

Di Sudan, Kamu Tidak Akan Kelaparan Saat RamadhanJamaah salat tarawih di Sudan (Muhammad Faiz Alamsyah/Istimewa)
Dalam 10 hari terakhir pula, masjid-masjid besar mengadakan salat malam. Setiap malamnya sang imam membaca 3 juz dalam kisaran waktu dua jam. Sehingga di hari terakhir Ramadhan, masjid tersebut mengkhatamkan Al Quran dua kali, ketika taraweh, dan ketika salat malam.

Di Sudan sana, kita tidak akan pernah kelaparan ketika bulan Ramadhan. Selain bertebaran hidangan makanan berbuka secara cuma-cuma, berbagai hidangan keberkahan juga tersajikan untuk mengenyangkan ruhiyah kita.

Ramadhan Kareem...

*) Muhammad Faiz Alamsyah adalah Mahasiswa s1 University of Holy Quran and Islamic Sciences, Sudan dan Ketua Departemen Media dan Informasi Persatuan Pelajar Indonesia di Sudan (PPI Sudan) 2016-2017
*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama detikcom dengan dan partisipasi Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia).

***

Para pembaca detikcom, bila Anda juga mahasiswa Indonesia di luar negeri dan mempunyai cerita berkesan saat Ramadhan, silakan berbagi cerita Anda 300-1.000 kata ke email: Ramadhan.detik.com cc artika@ppidunia.org dengan subjek: Cerita PPI Dunia. Sertakan minimal 5 foto berukuran besar karya sendiri yang mendukung cerita, data diri singkat, kuliah dan posisi di PPI.
(fay/fay)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadhan
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed