Orang Asing Dituding Pelaku Bom Bali II
Selasa, 04 Okt 2005 18:59 WIB
Jakarta - Tiga wajah yang diduga pelaku bom bunuh diri di Bali berparas asli Indonesia. Tapi, tidak tertutup kemungkinan pelaku lain insiden biadab itu bukan warga negara Indonesia alias orang asing."Jadi bukan berarti hanya orang Indonesia yang melakukan itu (pengeboman)," kata Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) La Ode Ida di Gedung DPR/MPR, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Selasa (4/10/2005).Dia pun memperkuat tudingannya. Alasan La Ode, kemunginan pelaku pemboman adalah gerakan kekuatan radikal yang sudah diketahui polisi. "Pelakunya mungkin juga gerakan invisible hand yang dilakukan organisasi kriminal internasional," ujarnya.La Ode sempat menyesalkan kinerja aparat yang dinilai lamban. Sebab hingga kini, petugas yang berwenang belum menentukan dengan pasti pelaku pemboman di tiga titik pariwisata di Bali itu."Masak intelijen tidak tahu itu (pengeboman). Kalau aparat keamanan dan intelijen tidak tahu, berarti mereka bukan aparat keamanan yang baik, bukan intelijen yang profesional," cetus anggota DPD dari Sulawesi Tenggara ini.La Ode pun menganalisa bom Bali kedua itu menjadi dua dimensi sudut pandang. Pertama, terkait dengan dimensi politik. Nuansa dimensi politik dalam tragedi bom Bali bertujuan menghancurkan citra Indonesia di mata internasional."Caranya dengan menciptakan opini Indonesia tidak aman, dengan mengambil tempat kerusakan di Bali sebagai tempat komunitas internasional," jelas La Ode.Dimensi kedua, lanjut dia, pengeboman itu sebagai wujud perlawanan budaya. Tragedi bom Bali pada 12 Oktober 2002 terjadi di diskotek. "Tahun ini di kafe. Kafe dan diskotek ini merupakan simbol sekularisme dan budaya pop," tutur mantan Ketua Forum Indonesia untuk Transparansi ini.La Ode meminta aparat untuk tidak tergesa-gesa menyebutkan otak di balik pengeboman. Tapi penentuan pelaku harus didukung bukti-bukti yang kuat. Sebab bila tidak didukung bukti yang kuat, maka akan menjadi bumerang bagi aparat."Tidak boleh cepat menuduh, karena akan menjadi bumerang bagi polisi. Nanti jangan sampai orang menuduh dia (aparat) yang mengorganisir. Sebab aparat keamanan yang menjadi intel," tandas La Ode.
(ism/)











































