MMI Minta Kasus Bom Bali II Tidak Dikaitkan Gerakan Islam
Selasa, 04 Okt 2005 15:53 WIB
Yogyakarta - Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) tidak membenarkan aksi pemboman. MMI juga meminta kepada semua pihak untuk tidak mengaitkan kasus bom Bali II dengan gerakan Islam tertentu sebelum ada bukti melalui pengadilan yang benar dan adil.Hal itu dikatakan Ketua Lajnah Tanfidziyah MMI, Irfan S. Awwas kepada wartawan di Markaz MMI Jl Karanglo Kotagede Yogyakarta, Selasa (4/10/2005). MMI saat ini masih dipimpin Ustad Abu Bakar Ba'asyir. "Itu yang kami minta, jangan dikait-kaitkan dengan gerakan Islam tertentu tanpa ada bukti di pengadilan. Sebab itu sama artinya menghakimi fakta dengan halusinasi," tegas Irfan.Irfan mengatakan MMI menuntut aparat kepolisian segera menangkap dan mengungkap siapa dalang atau pelaku di balik peristiwa itu serta berbagai kasus pengeboman di Indonesia. Sebab selama ini, orang-orang yang dituduh sebagai anggota Jemaah Islamiya (JI) hanyalah orang-orang yang pernah bertemu, menampung, atau memboncengkan Dr Azahari. "Hal seperti itu harus diusut tuntas dan kita patut mempertanyakan. Mengapa Azahari belum tertangkap atau memang sengaja dilepas oleh aparat untuk menangkap atau mengungkap jaringan yang lain," kata adik kandung Abu Jibril itu.Irfan juga meminta pemerintahan SBY-Kalla melakukan transparansi informasi dan independensi investigasi bom Bali II sehingga tidak menimbulkan saling curiga di antara anggota masyarakat. "Kami juga meminta pemerintah untuk menyelidiki keterlibatan Polisi Federal Australia yang sejak awal kejadian ikut melakukan investigasi di TKP dan kami juga meminta untuk mengklarifikasi kemungkinan keterlibatan John Howard dalam mendesain kasus bom Bali II. Mengapa dia bersikap lunak," ungkap Irfan.
(asy/)











































