Mandi Bersama Sambut Puasa

Mandi Bersama Sambut Puasa

- detikNews
Selasa, 04 Okt 2005 15:27 WIB
Pekanbaru - Mandi bersama di sungai sudah jamak dilakukan masyarakat Riau untuk menyambut bulan suci Ramadan. Tradisi yang bermula dari Kabupaten Kampar ini bertujuan untuk membersihkan diri. Tradisi ini dikenal dengan istilah 'mandi balimau'. Sore ini, Selasa (4/10/2005) ribuan masyarakat Kampar berkumpul di bantaran sungai Kampar. Terdiri dari semua golongan umur. Ada anak-anak, remaja-remaja, suami-istri, dan bahkan kakek nenek. Di sungai itulah, masyarakat melakukan mandi balimau. Ritual ini sudah berjalan lebih dari seratus tahun. Ada sebuah kepercayaan turun temurun di masyarakat Kampar bahwa mandi balimau merupakan bentuk untuk mensucikan diri dalam menyambut bulan puasa.Tradisi ini lambat laun menjadi agenda resmi pemerintah setempat. Malah tradisi balimau ini menggugah daerah lain untuk ikut melakukan hal yang sama, meski dengan sebutan yang berbeda pula. Di Pekanbaru misalnya, masyarakat menyebutnya dengan istilah 'petang megang' yang dipusatkan di bawah jembatan Siak I.Di Kampar, dalam mandi bersama ini, masyarakat setempat mempersiapkan segala kebutuhan untuk mensucikan diri. Ribuan masyarakat membawa alat mandi, buah tujuh warna, serta jeruk nipis yang nantinya mereka basuh ke badan. Dalam mandi bersama ini, mereka tetap mengenakan pakaian. Di bantaran sungai Kampar itulah, lebih dari 2.000 orang akan mendi bersama. Sedangkan ribuan lagi menjadi penonton menyaksikan anak-anak sampai orang tua tertawa bersama di tengah aliran sungai yang bening itu. Gelak tawa terpancar dari wajah mereka dalam menyambut bulan puasa.Padahal, saban tahun dalam acara mandi balimau ini ada saja warga yang menjadi korban hanyut terbawa arus sungai. Namun hal itu tidak menyurutkan mereka untuk tetap melakukan tradisi turun temurun itu.Biasanya, sebelum mandi bersama dilakukan, masyarakat akan dihibur sebuah orgen tungal. Lagu yang didendangkan lagu berirama padang pasir. Acara ini akan dimeriahkan dengan sampan-sampan hias dengan bentuk yang unik. Ada bentuk rumah adat Kampar, bentuk ular Naga, dan banyak lagi bentuk sampan hias lainnya.Sampan yang telah dibentuk sedemikian rupa, nantinya akan diarak dari bagian hilir sungai sampai ke tempat acara pemandian. Pelepasan kapal-kapal hias ini menjadi kemeriahan tersendiri.Tapi, kendati acara ritual, tak sedikit pula kelompok ABG memanfaatkan situasi yang ramai tadi. Tentunya suasana yang padat dengan manusia ini dimanfaatkan kaum muda untuk mencari kenalan. Tidak sedikit pula, ada di antara mereka yang mojok di pinggiran sungai sembari menyaksikan kapal-kapal hias.Masyarakat Riau tidak semuanya mendukung tradisi ini. Sebagian ulama malah memprotesnya, karena acara ini bisa menjadi ajang maksiat. Sebab, lokasi mandi antara laki-laki dan perempuan dijadikan satu tempat. Kondisi inilah pua kadang dimanfatkan kaum muda untuk mandi bersama dengan pasangannya. (asy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads