Crisis Center RS Sanglah Tiga Kali Terima Ancaman Bom
Selasa, 04 Okt 2005 09:45 WIB
Jakarta - Ancaman teror masih menghantui sukarelawan di Crisis Center RS Sanglah, Denpasar, Bali. Sukarelawan di tempat itu sempat menerima tiga kali teror melalui telepon. Isinya: Bali akan diledakan kembali. Wah!Menurut informasi yang dihimpun detikcom, Selasa (4/10/2005), teror pertama diterima beberapa jam setelah kejadian ledakan bom, tepatnya Minggu 2 Oktober pukul 02.15 Wita. Pesan yang masuk ke data base electronic berbunyi: "Biar Kapok Bali".Teror kedua terjadi Senin 3 Oktober pukul 23.45 Wita. Telepon diterima relawan Crisis Center bernama Bagus Feriyanto. Selang satu jam kemudian, tepatnya pukul 24.45 Wita, ancaman kembali diterima melalui data base electronic. Kedua teror itu isinya sama, yakni menyebutkan dua tempat di daerah Sanur akan diledakan Selasa 4 Oktober pukul 01.00 Wita.Menurut Jane M Lumy, koordinator relawan di hotline Crisis Center, sang penelepon bersuara laki-laki. Aksennya Jawa tetapi mencoba berbicara dalam logat Bali sehingga terlihat kaku. Selain itu, ujarnya, intonasi suara penelepon tegas seperti orang memerintah. Ancaman kedua dan ketiga berasal dari nomor telepon yang sama, yakni dari telepon seluler. Teror pada Minggu juga berasal dari telepon seluler namun dengan nomor yang berbeda."Saya tidak bisa menyebutkan nomornya berapa karena sudah diserahkan ke pihak yang berwajib. Jadi silakan tanya ke mereka," ujar relawan kelahiran Sulawesi itu. Meski mendapat tiga kali ancaman, Jane dan rekan relawan lainnya mengaku tidak takut atau khawatir. "Kita volunter sudah siap. Saya tidak gentar, karena saya 2002 lalu juga sebagai volunter," ungkapnya. Sejak tragedi bom Bali II terjadi, Crisis Center RS Sanglah tak henti-hentinya menerima telepon dari berbagai kalangan dan berbagai negara untuk memperoleh perkembangan terkini para korban.
(san/)











































