DetikNews
Jumat 10 Mei 2019, 16:15 WIB

Imigrasi: Agen Turis Nepal Cabut Laporan Soal Dimintai Duit Petugas di Bali

Aditya Mardiastuti - detikNews
Imigrasi: Agen Turis Nepal Cabut Laporan Soal Dimintai Duit Petugas di Bali Foto: Ilustrasi. (Ari Saputra-detikcom)
Denpasar - Pihak agen travel mencabut laporan soal petugas Imigrasi Bali meminta duit maupun memukul turis Nepal. Para petugas Imigrasi yang diperiksa pun bakal kembali bekerja minggu depan.

"Jadi dugaan pemukulan dan pemalakan akhirnya selesai karena sudah dapat bantahan dari yang bersangkutan, tour leadernya. Mereka bersurat ke KBRI di Dhaka, dia membantah suratnya/wa atau email bahwa isinya berita itu tidak benar karena kesalahpahaman, karena mendengar dari temen-temannya," kata Kepala Imigrasi Kelas I Khusus Ngurah Rai, Amran Aris via telepon di Denpasar, Bali, Jumat (10/5/2019).


Amran mengatakan pemberitahuan itu dikirimkan Managing Director Samsara Holidays Pvt Ltd, Ramesh Parajuli pada Rabu (8/5) lalu. Surat tersebut dikirimkan ke KBRI Dhaka di Bangladesh maupun Imigrasi. Amran mengatakan pihak tour leader mengakui ada salah paham.

"Mereka membantah, bahwa itu salah pengertian soal pemukulan, mungkin mengartikulasikannya berbeda, menepuk pundak. Kalau pemalakan uang tidak ada sama sekali, itu kan hanya melihat living cost, uang tunjuk tidak ada pemungutan dan sudah dibantah ketua grupnya," terangnya.

Amran menuturkan uang tunjuk itu dilakukan petugasnya jika menemukan turis-turis yang mencurigakan. Apalagi turis-turis dari Asia Tengah kerap datang ke Bali bukan sebagai turis tapi patut diduga untuk bekerja.

"Asia Tengah ada Srilanka, Nepal, Bangladesh, India, memang negara maju tapi tetap kita petakan. Karena memang Nepal dan Bangladesh memang sedikit yang datang sebagai turis, patut diduga sebagai ya mungkin pekerja, mungkin pergi negara selanjutnya," ujarnya.

"Kita sih sudah melakukan pencegahan-pencegahan awal. Kalau satu hari yang datang 16 ribu, ada 6-7 orang ditolak dengan kewenangan, dan sesuai SOP. Biasanya negara yang harus memiliki visa tapi tidak (punya) atau paspornya rusak. Jadi memang sering kita lakukan hal begitu," jelas Amran.


Amran mengaku lega kasus ini sudah selesai. Para petugas yang sempat 'diliburkan' untuk penyelidikan sudah kembali bekerja pekan depan.

"Mulai Senin depan kerja lagi, (kondisinya) stres pasti. Buat saya itu dulu, karena jauh kita kan orangnya di mana itu aja disebut dulu, nanti akan saya konsultasikan apakah akan komplain balik. Yang pasti kita tenang dengan hasil ini," tuturnya.

Sebelumnya diberitakan, agen travel asal Nepal, Samsara Holidays Pvt, Ltd mengeluhkan kelakuan oknum petuas imigrasi yang diduga melakukan 'pemalakan'. Para turis asal Nepal itu mendarat di Bali Jumat (12/4) pukul 12.20 Wita.

Saat mengantre di counter Imigrasi salah seorang petugas mendatangi dan meminta paspor 10 orang dari rombongan turis tersebut.

"Seorang petugas imigrasi (berseragam) mendatangi 10 pelanggan kami yang sedang mengantre. Dia mengumpulkan semua paspor dan memanggil mereka ke sebuah ruangan sambil meminta uang USD 200 per orang, tapi ditolak oleh pelanggan kami. Ketika mereka berdebat dan minta penjelasan mengapa harus membayar, petugas itu memukuli pelanggan kami yang mengakibatkan 2 orang terluka," urai Samsara Holidays Pvt, Ltd di Bali Ketut Wiyasa saat dimintai konfirmasi.
(ams/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed