DetikNews
Jumat 10 Mei 2019, 01:26 WIB

Siklon Tropis Lili di Laut Timor, Sejumlah Desa Maluku Barat Daya Banjir

Tsarina Maharani - detikNews
Siklon Tropis Lili di Laut Timor, Sejumlah Desa Maluku Barat Daya Banjir Peninjauan banjir BPBD Maluku Barat Daya (Foto: dok. Istimewa)
Jakarta - Dampak Siklon Tropis Lili yang berada di sebelah utara Laut Timor terus bergerak ke arah barat daya dan menyebabkan cuaca ekstrem di sekitarnya. Banjir dan cuaca ekstrem berupa angin kencang melanda sejumlah desa di Kabupaten Maluku Barat Daya.

Desa yang terkena dampak adalah Desa Laitutun di Kecamatan Pulau Letti, Desa Tounwawan di Kecamatan Moa Lakor, dan Desa Luang Timur di Kecamatan Mdona Hiera, Kabupaten Maluku Barat Daya. Banjir dan cuaca ekstrem mulai terjadi sejak Rabu (8/5) pukul 19.00 WIT.


Di Desa Laitutun, tinggi air mencapai 1 meter. Warga pun mengungsi. Sementara itu, di Desa Tounwawan angin kencang menyebabkan rumah rusak. Namun disebutkan tidak ada korban jiwa.

"Tidak ada korban jiwa dalam bencana yang melanda Maluku Barat Daya. Di Desa Laitutun, banjir setinggi 1 meter menggenangi rumah-rumah warga. Beberapa warga di Desa Laitutun mengungsi. Jumlah pengungsi masih dalam pendataan," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, kepada wartawan, Jumat (10/5/2019).

"Di Desa Tounwawan, angin kencang menyebabkan beberapa rumah rusak. Sedangkan di Desa Luang Timur, angin kencang mengakibatkan 10 unit rumah rusak berat, 1 unit kantor desa rusak berat, dan 1 buah kapal tenggelam akibat gelombang tinggi," imbuh dia.


Selain itu, dilaporkan ada sebuah sekolah rusak di Dusun Poliwu. Sekolah itu terendam air setinggi 1,5 meter. Namun saat ini banjir disebutkan telah surut. Disebutkan ketinggian air saat ini 30-50 cm.

"Sementara itu, di Desa Pulau Letti, terdapat satu unit bendungan jebol sehingga beberapa rumah rusak. Di Dusun Poliwu, terjadi banjir mengakibatkan gedung Sekolah Dasar Kristen Poliwu rusak karena terendam air dengan setinggi 1,5 meter," ujar Sutopo.

Dampak siklon tropis sudah dirasakan masyarakat di Pulau Letti sejak Senin (6/5) dan puncaknya pada Rabu (8/5) pukul 21.00 WIT. Gelombang laut juga tinggi, sehingga masyarakat tidak ada yang berani berlayar.


Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Maluku Barat Daya melakukan kajian cepat dan melaporkan kejadian bencana alam ini ke Bupati Maluku Barat Daya. BPBD Maluku Barat Daya bersama Bupati dan OPD/lembaga terkait telah melakukan kunjungan ke lokasi kejadian. Penanganan darurat dilakukan bersama BPBD, TNI, Polri, SKPD, relawan, dan masyarakat.

Namun penanganan darurat ini sempat mengalami kendala. Persoalan di lapangan di antaranya minimnya jumlah personel di BPBD Kabupaten Maluku Barat Daya dan buruknya jaringan telekomunikasi.

Selain itu, akses lokasi yang sulit dijangkau dari kota/kabupaten (pulau) menyebabkan pendataan tidak bisa cepat. Daerah dengan pulau-pulau kecil yang infrastruktur komunikasi dan transportasi terbatas menjadi kendala dalam penanganan bencana.
(tsa/azr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed