JK Tidak Takut Bom
Senin, 03 Okt 2005 19:47 WIB
Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) ternyata sama sekali tidak khawatir dengan acaman teror bom di lingkungan tempat menjalankan aktivitas rutinnya. Baik di kantor Wapres maupun kediaman dinas dan pribadinya."Bom? Ah.. nggak!" ujar Wapres sambil mengibaskan tangannya saat dicegat wartawan usai salat Ashar di Kantor Wapres, Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (3/10/2005). Ucapan pendek itu merupakan jawaban JK atas pertanyaan wartawan apakah dirinya takut bom sampai-sampai Sekretariat Wapres mengeluarkan larangan penggunaan tas punggung dan doorstop interview di Kantor Wapres. Ditemui secara terpisah, Sekretaris Wapres Gembong Prijono menegaskan, ketentuan tersebut sama sekali tidak ada kaitan dengan Bom Bali II. Menurut dia, draf aturan tata tertib telah dipersiapkan sejak pertengahan September lalu. Namun, aturan itu baru mendapat persetujuan dari Pasukan Pengaman Wakil Presiden (Paspampres) pagi ini sejak dikoordinasikan dua pekan lalu. Faktor inilah yang menyebabkan adanya perbedaan antara tanggal pengesahan dan penyampaiannya pada wartawan. Ia juga membantah Setwapres melarang wartawan pengguna tas punggung melakukan liputan di Kantor Wapres. Implemantasi dari butir empat tata tertib liputan itu adalah wartawan sebaiknya menyimpan tas punggung bawaannya di lemari ruang pers saat melakukan wawancara."Kan besar tasnya, jadi biar gak mengganggu teman lainnya simpan saja di loker," papar Gembong di ruang kerjanya.Sementara mengenai prosedur doorstop interview yang tidak bisa dilakukan setiap saat dan wartawan harus menyampaikan materi yang akan ditanyakan terlebih dahulu pada ajudan dinas, menurut dia, lebih merupakan aturan internal. Tujuannya menjaga kewibawaan salah seorang pejabat lembaga tinggi negara. "Kami bukan melarang. Tapi menertibkan suatu aturan supaya tidak seolah-olah setiap saat Wapres bisa di-doorstop. Kan beliau sebagai Wapres," kata Kepala Biro Press Evac S. Mintardja pada kesempatan yang sama. Dijelaskan dia, tidak semua hasil rapat dengan para menteri atau pejabat boleh diungkapkan saat itu juga ke wartawan. Sebab hasil rapat seringkali baru berupa bahan setengah matang yang sedang dalam proses penggodogan lebih lanjut. Kalaulah ada yang sudah final, masih memerlukan persetujuan dari Presiden sebagai Kepala Pemerintahan. "Wapres sendiri tidak terlalu tertutup. Beliau siap layani kapan saja. Hanya perlu disadari ada kegiatan-kegaiatan yang masih dalam proses dan ada final," imbuhnya.
(asy/)











































