Cerita Berkesan Ramadhan

Tantangan 19 Jam Berpuasa Ramadhan di Inggris

Budi Waluyo - detikNews
Kamis, 09 Mei 2019 17:01 WIB
Supermarket halal di Leicester (Budi Waluyo/Istimewa)
Supermarket halal di Leicester (Budi Waluyo/Istimewa)
Leicester - Ramadhan 2019 di Inggris bertepatan dengan musim semi menjelang musim panas. Umat Islam di Inggris menghadapi tantangan berpuasa 19 jam.

Menjelang musim panas, durasi siang hari lebih panjang daripada malamnya. Matahari terbit sekitar pukul 5 pagi dan baru terbenam pukul 21.00. Berpuasa di negeri ujung Eropa itu berkisar 18-19 jam.

Menjumpai Ramadhan 2019 di Inggris terasa sangat berbeda saat di Tanah Air. Tak terdengar kumandang azan Magrib penanda waktu berbuka. Tak ada pengeras suara masjid yang membangunkan warga menjelang sahur tiba. Tak ada restoran yang memasang gorden untuk menutup hidangannya.

Berbeda dengan di Indonesia, suasana menyambut Ramadhan sangat terasa. Kemeriahan akan segera hadir bulan suci terlihat dari semaraknya iklan-iklan bernuansa religi di televisi. Tak hanya itu, spanduk dan reklame bermotif islami hadir menambah semarak di ruang publik. Suasana terasa sama seperti hari-hari biasa, tanpa hiruk-pikuk menyambut bulan puasa Ramadhan.

Tantangan 19 Jam Berpuasa Ramadhan di Inggris Jadwal puasa di Leicester (Budi Waluyo/Istimewa)

Perbedaan durasi lama berpuasa adalah hal yang sangat terasa antara berpuasa di Indonesia dan Inggris. Panjangnya durasi ini menjadi tantangan tersendiri. Bagi muslim di Indonesia, pukul 17.00 sore terasa sudah sangat dekat dengan waktu berbuka. Menu buka puasa mungkin sudah siap tersaji di meja. Sementara di Inggris, pukul 17.00 matahari masih tinggi dan waktu berbuka masih 4 jam lagi.

Biasanya, pukul 6 sore istri saya baru mulai memasak dan menyiapkan menu buka puasa. Pukul 8 hidangan sudah matang, tapi matahari masih terang benderang. Meskipun demikian, panjangnya durasi puasa tak menjadi masalah besar karena matahari tak terlalu menyengat. Musim semi di Inggris lebih dingin daripada musim hujan di Indonesia. Matahari memancarkan sinarnya, tapi suhu udara hanya berkisar 10-15°C, sehingga dahaga tak begitu terasa.

Tantangan yang lebih berat dalam berpuasa di Negeri Ratu Elizabeth II adalah mengatur waktu istirahat. Jeda waktu antara salat Tarawih dan makan sahur relatif singkat. Rata-rata, salat Isya berjemaah dilakukan pukul 22.30. Tarawih dimulai pukul 23.00 dan selesai sekitar pukul 24.00. Waktu yang tersisa untuk istirahat pun jadi sangat terbatas, mengingat pukul 02.00 pagi sudah mulai persiapan sahur, sehingga harus disiplin mengatur waktu tidur, supaya tak terlewat santap sahur.

Saya dan istri sering kali memilih menunda tidur. Setelah selesai Tarawih, kami menunggu sampai tiba waktu sahur. Mereka baru beristirahat setelah menunaikan salat Subuh. Meskipun menyadari, seorang muslim hendaknya menghindari tidur pagi meskipun tidak ada larangan yang mutlak untuk hal ini.

Tantangan 19 Jam Berpuasa Ramadhan di Inggris Penulis berbuka puasa di Masjid Markaz Quba Leicester (Budi Waluyo/Istimewa)

Bagi saya, tak jadi kendala karena dapat melakukan riset di rumah. Riset doktoral yang sedang dikerjakan merupakan bidang ilmu sosial tanpa aktivitas di laboratorium. Sehingga tidak harus datang ke kampus setiap hari. Buku-buku referensi penelitian dapat dibawa pulang selama bulan Ramadhan. Referensi penelitian berupa jurnal ilmiah bisa diakses secara daring dari rumah. Koleksi e-book di perpustakaan juga bisa diunduh dengan mudah. Laporan perkembangan penelitian bisa dikerjakan di rumah lalu dikirim melalui surel.

Tantangan lainnya berpuasa di Leicester pada musim semi adalah menjaga pandangan mata, khususnya bagi pria. Karena musim semi dan musim panas sangat dinanti warga Inggris Raya. Hangatnya sinar matahari menjadi barang mewah bagi mereka. Ada kebiasaan di musim ini, para wanita di Inggris mengenakan pakaian serba-tipis dan terbuka. Mereka duduk-duduk di pinggir jalan dan berjemur di taman-taman kota.

Menyaksikan pemandangan seperti itu, tentu bisa merusak pahala puasa bagi pria. Di bulan Ramadhan, saya lebih suka menjalani aktivitas di rumah dan mengurangi pergi ke kampus demi menghindari pemandangan tadi.

Mengenai makanan, sebenarnya tidak terlalu menjadi tantangan selama berpuasa di Inggris. Warga muslim di Leicester mengisi bulan Ramadhan dengan sejumlah acara. Mulai kajian Islam, tilawah bersama, sampai iktikaf dan salat malam. Hampir semua masjid menyediakan makanan untuk buka puasa. Beberapa masjid bahkan mengadakan sahur bersama selama iktikaf.

Tersedia makanan dan minuman khas Ramadhan, seperti kurma dan sirop, di supermarket halal. Tersedia pula bahan-bahan untuk membuat menu berbuka khas Indonesia, misalnya ketela pohon dan pisang tanduk untuk dibuat kolak. Satu batang ketela dijual 1,5 poundsterling atau setara Rp 27 ribu, sedangkan pisang 0,5 poundsterling atau sekitar Rp 9.000 per buah.

Tantangan 19 Jam Berpuasa Ramadhan di Inggris Minuman khas Ramadhan di Leicester (Budi Waluyo/Istimewa)

Berhubung tak ada suara azan dari masjid, kami memiliki cara sendiri untuk menciptakan suasana buka puasa. Ketika waktu berbuka telah tiba, kami memutar video azan Magrib yang banyak tersedia di dunia maya. Tentu saja kami menunggu waktu Magrib tiba, meskipun video azan itu bisa kami putar kapan saja.

Umat Islam di Inggris sangat menghormati umat beragama lain, termasuk di bulan Ramadhan. Misalnya, menjaga ketertiban setelah salat Tarawih yang berakhir tengah malam. Pengurus masjid juga mengingatkan jemaah agar tidak berisik atau ngobrol terlalu keras ketika berjalan pulang dari masjid karena bisa mengganggu warga nonmuslim yang sedang nyenyak beristirahat.

Beragam suka-duka kami lalui selama berpuasa. Ada yang mengalami penurunan berat badan cukup signifikan karena sering terlewat sahur. Ada pula yang kesulitan menahan kantuk di siang hari akibat kurang tidur. Untungnya, bulan Mei-Juni mayoritas mahasiswa di Inggris telah selesai kuliah dan memasuki masa penyusunan tugas akhir.

Bagi saya dan keluarga, Ramadhan tahun ini merupakan tahun ketiga menjalani hidup di Inggris. Menjalankan puasa di wilayah ujung Eropa memberi kesan tersendiri bagi mahasiswa. Di Leicester, sebagian mahasiswa muslim merasakan Ramadhan ini sebagai pengalaman pertama. Bahkan, bagi mereka yang menempuh pendidikan master (S2), Ramadhan ini sekaligus kesempatan terakhir berpuasa di Britania Raya karena durasi perkuliahan mereka hanya satu tahun.

Dengan segala perbedaan yang ada, terasa uniknya ibadah puasa di Britania Raya. Juga ada perbedaan waktu antara Inggris dan Indonesia dengan selisih sekitar 6 jam. Waktu di Inggris tertinggal 6 jam dari waktu di Indonesia. Sehingga, ketika umat Islam di Britania Raya baru berbuka puasa (pukul 21.00) saudaranya di Indonesia sedang menikmati sahur (pukul 03.00) untuk puasa hari berikutnya.

*) Budi Waluyo adalah mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan doktoral di University of Leicester, Inggris. Ia adalah pengurus Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) cabang Leicester (2016-2017) dan PPI United Kingdom (2017-2018).
*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama detikcom dengan dan partisipasi Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia).

***

Jika Anda juga mahasiswa Indonesia di luar negeri dan punya cerita berkesan saat Ramadan, silakan berbagi cerita Anda 300-1.000 kata ke email: ramadan.detik.com cc artika@ppidunia.org dengan subjek: Cerita PPI Dunia & judul artikel. Sertakan minimal 5 foto berukuran besar karya sendiri yang mendukung cerita dan data diri singkat, kuliah dan posisi di PPI.

(isf/fay)