Tidak Mungkin Puasa Serentak

Tidak Mungkin Puasa Serentak

- detikNews
Senin, 03 Okt 2005 19:24 WIB
Den Haag - Idealnya puasa Ramadhan itu dilakukan serentak. Namun hal itu juga tidak mungkin dilakukan karena dunia tidak selebar daun kelor.Demikian dikemukakan Ketua ICMI Eropa Dr. Sofjan S. Siregar melalui email yang diterima detikcom (3/10/2005). "Tidak mungkin orang Islam di Australia mulai puasanya sama dengan yang di AS," ujar Sofjan.Agar keserentakan bisa cukup luas, dosen pada Universitas Islam Eropa, Rotterdam, itu mengusulkan diberlakukannya metode free horizon dengan mengabaikan prinsip ihktilaful matoli' sejauh mungkin. "Artinya andaikata terlihat ada hilal di Marokko pada Senin 29 Sya'ban 1426 (3/10/2005), maka puasa Ramadhan dimulai Selasa 4/10/2005 dan semua negara yang berada di sebelah timur Marokko dari Turki ke Saudi ke Pakistan sampai Indonesia dan Philipina ikut puasa hari Selasa 4/10/2005. Sedangkan umat Islam yang tinggal di Jepang tidak mungkin ikut karena pada saat terbenam matahari di Marokko, waktu fajar sudah terbit di Tokyo," demikian Sofjan.Sofjan menjelaskan bahwa penanggalan Islam yang mengikuti sistem lunar, metode penetapannya ada dua: yakni dengan Ru'yatul Hilal atau mengobservasi bulan sabit (crescent moon) dan khusus bulan Ramadhan dapat pula dengan Ikmal Sya'ban (menyempurnakan bilangan Sya'ban menjadi 30 hari). Untuk Ramadhan tahun ini observasi pada 29 Sya'ban jatuh bertepatan dengan hari ini, Senin (3/10/2005). Waktu observasinya dilakukan pada saat terbenam matahari. Hilal sudah harus berada di atas horizon (ufuk) pada waktu Maghrib. Orang yang melakukan ru'yatul hilal harus orang yang adil. Visibilitas hilal menurut perhitungan (hisab) juga harus jadi kriteria.Menurut Sofjan, muktamar ahli Ilmu Falak (astronomi) sedunia di Istanbul (1981) menetapkan bahwa hilal dapat diobservasi bila ketinggiannya lebih dari 4 derajat. "Namun pada 1971 pernah juga hilal bisa dirukyat di Indonesia dengan ketinggian 1 derajat," kata Sofjan.Sofjan menuturkan, di beberapa negara Timur Tengah ada yang melakukan observasi secara individual dan ada juga yang berkelompok. Di Saudi Arabia dan Syria beberapa orang yang berpengalaman mampu dan bisa melihat hilal secara akurat tanpa alat teropong dan tanpa peralatan canggih seperti yang dimiliki beberapa tim observasi canggih di negara-negara maju."Saya masih ingat ketika diberi tugas sebagai asisten dosen Pak Abdurrahim dalam mata pelajaran Ilmu Falak fakultas Syariah IAIN Sunan Kali Jogo sekitar 30 tahun silam untuk melakukan observasi hilal Ramadhan. Saya selalu membawa teropong dan peralatan hisab keluar kampus di sepanjang kali Maguwo, namun hilal Ramadhan tidak pernah kami temukan," kisah Sofjan.Ditekankan, di Belanda tidak dilakukan observasi karena letak geografis Belanda yang rendah dan selalu berkabut tidak memungkinkan melihat hilal atau awal Ramadhan. Adapun yang diklaim oleh sebagian orang bahwa mereka melihat hilal Ramadhan di Belanda itu bertentangan dengan kenyataan. "Karena mereka selalu mulai berpuasa dua atau tiga hari bulan Ramadan. Apa yang mereka lihat adalah bulan Ramadhan, bukan hilal Ramadan," papar Sofjan.Jika ternyata tidak ada yang melihat bulan pada hari Senin 3/10/2005 karena kabut dsbnya, sedangkan ijtimak (konjungsi) antara bulan dengan matahari sudah terjadi dan hilal pada saat terbenam matahari sudah berada di atas ufuk, maka ditempuh Ikmal Sya'ban, menyempurnakan bilangan Sya'ban menjadi 30 hari. Namun biasanya umat Islam di Belanda akan makmum atau mengikuti awal Ramadhan sesuai dengan negara-negara dengan garis lintang terdekat. (es/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads