Panglima: Intel Tidak Kecolongan

Bom Bali II

Panglima: Intel Tidak Kecolongan

- detikNews
Senin, 03 Okt 2005 15:32 WIB
Jakarta - Ledakan bom Bali II mencengangkan semua orang. Intelijen dituding kecolongan. Tapi Panglima TNI Jenderal TNI Endriartono Sutarto berpendapat intelijen tidak kecolongan. Sang jenderal justru meminta masyarakat proaktif menyampaikan informasi yang didapatnya kepada pihak TNI. Masyarakat diimbau peduli terhadap lingkungannya."Dari kondisi seperti itu, kesatuan dan persatuan jauh dari harapan. Banyak yang lebih mementingkan diri sendiri. Intelijen itu bisa bekerja hanya berkat dukungan masyarakat. Kalau tidak dapat dukungan, maka tidak optimal," kata Tarto.Hal ini disampaikan dia usai melakukan peninjauan gladi bersih peringatan HUT ke-60 TNI di Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Senin (3/10/2005).Menurut Tarto, dahulu pihak TNI seringkali mendapat informasi dari masyarakat, namun sekarang tidak ada lagi karena sudah tidak punya kepedulian bila ada tetangganya yang melakukan kegiatan yang mencurigakan dan tidak dilaporkan."Harapan saya, kerja sama pihak intelijen dan masyarakat terus dikembangkan, dan ini sangat membantu. Intelijen tidak kecolongan karena pada akhirnya itu tergantung bantuan dari masyarakat juga," tandasnya. Menurut Tarto, dulu banyak warga masyarakat yang lapor ke TNI punya kebanggaan. Namun kondisi sekarang berbalik, jika warga masyarakat berinteraksi dengan TNI, maka akan merasa terhina. "Barangkali ini yang perlu dipulihkan agar masyarakt punya kebanggaan untuk melapor ke kita, minimal ke RT/RW atau kepolisian," ujarnya.Sekali lagi Tarto menegaskan bahwa intelijen tidak kecolongan, karena di dunia mana pun aksi teror juga dialami negara lain, seperti Inggris beberapa waktu lalu.Dijelaskannya, pihak aparat keamanan sangat kesulitan mendeteksi pelaku bom, karena kebanyakan juga dilakukan oleh orang domestik. Hal ini berbeda dengan AS yang melakukan pengawasan ketat terhadap kedatangan orang luar. "Bagaimana kita mau membatasi orang yang mau ke Bandung atau Pasar Senen," terangnya.Tarto juga menyayangkan sikap apatisme masyarakat yang enggan melaporkan hal-hal yang mencurigakan. Padahal jauh hari Presiden SBY juga sudah mengingatkan akan adanya aksi teror dengan menyatakan bulan September-Oktober adalah bulannya kegiatan terorisme."Sekarang tinggal bagaimana masukan dari masyarakat, karena ketika kegiatan pembuatan bom dilakukan, tidak pernah ada masyarakat yang mau melaporkan, padahal tidak mungkin pembuatan bom dilakukan di hutan belantara," cetus Tarto. (san/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads