detikNews
Rabu 08 Mei 2019, 12:23 WIB

Menhan: Ada Ulama Belajar Dikit di Arab, Sudah Jadi Nggak Jelas

Arief Ikhsanudin - detikNews
Menhan: Ada Ulama Belajar Dikit di Arab, Sudah Jadi Nggak Jelas Menhan Ryamizard Ryacudu (Foto: Tri/detikcom)
Jakarta - Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu heran dengan adanya ulama-ulama yang anti-persatuan dan anti-NKRI. Dia menyebut ulama tersebut sebagai ulama nggak jelas.

Ryamizard bercerita peran ulama dalam merebut kemerdekaan dari negara kolonial. Ulama bersatu sehingga membentuk kekuatan yang besar.

"Jadi, Islam di Indonesia yang damai ini memiliki peran penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia sejak zaman Belanda, tiga setengah abad, para ulama bersama umatnya tidak pernah surut melakukan perlawanan dalam kolonial Belanda," ucap Ryamizard dalam sambutan simposium Perang Mindset Pada Era Keterbukaan Informasi di Kantor Kementerian Pertahanan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Rabu (8/5/2019).

"Karena itu, ulama tersebar di seluruh penjuru Indonesia jadi tokoh perlawanan penjajah Belanda. Nah ini saking kuatnya, heran orang Belanda ini sampai mereka belajar bahasa Arab," sambung Ryamizard.

Peran ulama penting dalam perjuangan kemerdekaan. Mereka terus berjuang sampai akhirnya Indonesia merdeka.


"Kegigihan mereka berujung kemerdekaan 17 Agustus 1945 jelas betapa besarnya peran ulama dalam menjaga keutuhan NKRI," kata Ryamizard.

Kemudian, Ryamizard melihat ada beberapa ulama nggak jelas yang tidak mencintai NKRI. Mereka tidak paham bahwa ulama punya peran penting dalam berdirinya bangsa.

"Saya nggak ngerti nih, ulama-ulama sekarang, di mana dulu bapaknya, nenek moyangnya nggak pernah berjuang makannya kaya begitu tuh kelakuannya. Kalau ulama dulu-dulu, nah ini berjuang nih. Baru belajar sedikit di Arab sudah nggak jelas. Tambah lama tambah nggak jelas aja itu," kata Ryamizard.

Bagi Ryamizard, Islam di Indonesia berciri damai dan menjaga persatuan. Bukan Islam yang melakukan tindakan teror.

"Pada Islam Indonesia yang sebenarnya adalah Islam yang penuh damai dan menjunjung tinggi nilai persatuan, nasionalisme, dan toleransi. Memang Islam itu di mana saja rahmatan lil alamin bukan teror-teror begitu," ucap Ryamizard.
(aik/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed