DetikNews
Senin 06 Mei 2019, 16:56 WIB

BNN Tangkap Napi di Kendari yang Atur Peredaran Sabu dari Dalam Lapas

Sitti Harlina - detikNews
BNN Tangkap Napi di Kendari yang Atur Peredaran Sabu dari Dalam Lapas Foto: Konper BNN Sultra soal FT yang mengatur peredaran sabu di Kota Kendari dan juga berperan sebagai bandar (Sitti-detikcom)
Kendari - Badan Narkotika Nasional (BNN) Sulawesi Tenggara (Sultra) menangkap seorang berinisial FT yang merupakan narapidana Lapas Kelas II A Kendari. FT diketahui mengatur peredaran narkoba jenis sabu di Kota Kendari dan juga berperan sebagai bandar.

Pengungkapan kasus ini bermula saat tim BNN Sultra mengendus rencana salah seorang kurir berinisial AH yang berada di bawah perintah FT akan melakukan transaksi narkoba jenis sabu di Kabupaten Konawe, Sultra. AH tiba di Konawe dengan menumpang bus dari Toraja, Sulawesi Selatan.

"Kami mendapatkan laporan dari masyarakat jika akan ada transaksi narkoba jenis sabu dilakukan di Konawe, sehingga kami melakukan penyelidikan," ujar Kepala BNNP Sultra, Imron Korry di Kendari, Senin (6/5/2019).

Namun AH membatalkan rencana untuk melakukan transaksi sabu di Konawe, dan dia pun memilih tetap berada di dalam bus untuk menuju Kota Kendari. Tim BNN pun membuntuti bus rute Toraja-Kendari itu dari wilayah Konawe.

AH akhirnya ditangkap tim BNN Sultra di wilayah Bundaran Mandonga, Kendari dengan barang bukti sabu dengan berat 2,16 kilogram. Tim BNN juga mengamankan salah seorang lainnya berinisial AHB.

Imron mengungkapkan, dari pendalaman AH dan AHB, diketahui AH dalam melakukan aksinya dikoordinasikan oleh FT yang merupakan napi Lapas Kelas II A Kendari. AH juga diperintahkan FT untuk berangkat ke Toraja mengambil sabu. Dalam kasus ini FT berperan sebagai bandar dan pengendali.

Ketiga pelaku dikenakan Pasal 132 ayat 1 junto Pasal 114 ayat 2 dan atau Pasal 127 ayat 1 UU RI No 35 Tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman minimal 6 tahun penjara hingga terancam pidana hukuman mati.


Sementara itu, Kepala Lapas Kelas II A Kendari, Samad mengatakan bahwa pihaknya sudah berupaya melakukan penjagaan yang ketat terhadap para napi, namun masih bisa kecolongan karena minimnya personil.

"Kita kan sisten shift, yang berjaga hanya 6 orang dan melakukan penjagaan kepada 600 lebih warga binaan, jadi kami juga kewalahan, kami juga kewalahan karena alat yang kurang memadai seperti metal detector sehingga kita periksanya manual hanya pakai tangan saja," keluhnya.
(nvl/nvl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed