detikNews
Minggu 05 Mei 2019, 00:07 WIB

Peneliti Temukan Kerusakan Lukisan Prasejarah di Gua Purba Sulsel

M Bakrie - detikNews
Peneliti Temukan Kerusakan Lukisan Prasejarah di Gua Purba Sulsel Peneliti temukan kerusakan pada lukisan prasejarah yang ada di gua purba di Sulsel (Foto: Dok. Istimewa)
Maros - Setelah melakukan pengkajian selama hampir lima tahun, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulawesi Selatan menemukan fakta kerusakan lukisan manusia prasejarah di beberapa situs gua purbakala yang ada di Sulawesi Selatan. Kerusakan ini mengancam kelestarian cagar budaya.

"Tahun 2015 kita monitoring sampai lima gua prasejarah yang di dalamnya terdapat 340 gambar. Hasilnya, ada 315 yang rusak dan yang utuh hanya 25 gambar," kata tim pengkaji BPCB Sulsel, Rustan Lebe, saat memaparkan hasil kajiannya di diskusi terpumpun di Maros, Sabtu (4/5/2019).

Indonesia merupakan salah satu museum prasejarah terbaik di dunia. Sebuah gambar telapak tangan manusia purba tertua di dunia ada di Indonesia.

Peneliti Temukan Kerusakan Lukisan Prasejarah di Gua Purba SulselFoto: Dok. Istimewa


Rustan menjelaskan, kerusakan lukisan tersebut kebanyakan terjadi pada media atau lapisan batu tempat gambar itu menempel. Bahkan, kerusakannya mencapai 100 persen. Sementara jenis kerusakannya diidentifikasi karena aus, batuan retak, ganggang dan lumut hingga adanya vandalisme.

"Ada memang karena faktor alam, seperti aus, ganggang dan batuannya yang retak. Tapi juga ada faktor lain dari manusia seperti vandalisme dan gua dijadikan sebagai kandang ternak warga. Tapi kami belum bisa menentukan seberapa jauh kerusakan dari intervensi manusia," ucapnya.

Proses pengkajian pelestarian cagar budaya masih dilanjutkan. Pada 2018, dilakukan pengkajian untuk mengukur seberapa cepat kerusakan gambar prasejarah itu. Salah satu kasus, ditemukan hanya dalam kurun waktu 4 bulan, kerusakan satu gambar sangat signifikan.


"Kalau soal berapa lama kerusakannya, itu masih kita kaji. Tapi satu kasus di gua Jarie Maros, kita temukan dalam interval waktu 4 bulan ada penyusutan gambar di gua itu sampai 1,36 sentimeter persegi. Ini terbilang sangat cepat sekali terjadi, tapi kita tidak bisa generalkan," sebutnya.

Terkait aktivitas penambangan yang ada di sekitar situs, tim BPCB mengaku belum bisa menemukan korelasi kerusakan gambar itu akibat ledakan atau semburan asap pabrik. Hanya saja, aktifitas pertambangan itu, memang menjadi sebuah ancaman serius bagi pelestarian cagar budaya.

"Kita belum bisa buktikan secara ilmiah soal itu. Tapi memang yang namanya getaran akibat ledakan, asap dan debu itu menjadi ancaman serius bagi upaya pelestarian situs," paparnya.


Kajian yang dilakukan oleh BPCB Sulsel ini diharapkan dapat menentukan jangka kerusakan satu gambar prasejarah di dalam satu gua, sekaligus mencari faktor percepatan kerusakan. Data inilah yang akan digunakan untuk menentukan pola yang akan dilakukan untuk memperpanjang usia gambar.

Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulawesi SelatanBalai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulawesi Selatan memberi penjelasan dari ibu Jepang. (Foto: Dok. Istimewa)

"Kalau kerusakan itu hukum alam. Tapi dengan pengkajian ini kita mau, kerusakannya diminimalisir untuk memperpanjang usia satu objek gambar. Data itulah yang nantinya akan menentukan pola apa yang akan kita pakai dalam pelestariannya," terang Rustan.

Di kawasan karst Maros Pangkep sendiri, terdapat 310 gua yang 242 gua diantaranya terdapat berbagai gambar manusia prasejarah di dalamnya. Bahkan, jumlah gambar purbakala yang ada di kawasan itu mencapai puluhan ribu gambar yang usianya masih terus diteliti oleh arkeolog dunia.


(jbr/jbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed