Di Gunungkidul, Minyak Tanah Eceran Rp 3.000 per Liter
Senin, 03 Okt 2005 00:01 WIB
Yogyakarta -
Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) belum menetapkan harga eceran tertinggi (HET) minyak tanah. Namun di Kabupaten Gunungkidul, terutama di wilayah pedesaan bagian selatan, minyak tanah ditingkat eceran dijual dengan harga Rp 3.000 per liter."Selain masih sulit didapat karena belum banyak pasokan ke pangkalan, harga eceran minyak tanah di warung-warung mencapai Rp 3.000/liter," kata Samino (34) pemilik warung kelontong, warga Desa Girisekar Kecamatan Panggang kepada detikcom, Minggu, (2/10/2005).Menurut Samini, sejak BBM belum naik sulit sekali untuk mendapatkan minyak tanah. Para pemilik pangkalan minyak tanah di Kecamatan Panggang dan Saptosari yang berjarak sekitar 15 kilometer dari rumahnya sampai hari Sabtu (1/10/2005) kemarin belum mendapatkan jatah pasokan. "Kami terpaksa kulakan sampai ke Pasar Imogiri Bantul karena kalau kulakan di Wonosari semakin susah dapatnya," katanya.Saat kulakan di Pasar Imogiri yang berjaraka sekitar 30 kilometer dari rumahnya itu Samino membawa empat jerigen isi 10 liter, namun yang didapatkan hanya 20 liter saja. Saat membeli, satu liter minyak tanah dijual dengan harga Rp 2.500/liter. Sedangkan untuk bensin eceran di warung miliknya dijual dengan harga Rp 5.250/liter. "Kami terpaksa menjual minyak tanah seharga Rp 3.000/liter, hanya mengambil keuntungan Rp 500/liternya. Kalau ditempat lain yang dekat pantai harganya bisa lebih tinggi lagi," katanya.Secara terpisah seorang nelayan di Pantai Ngrenehan Kecamatan Saptosari, Ngatijo (27) mengatakan para nelayan sejak sebulan terakhir ini jarang sekali melaut karena kesulitan mendapatkan solar. Sebelum kenaikan di warung harga eceran solar mencapai Rp 3.000/liter dan sekarang ini harga eceran mencapai Rp 5.000/liter. Menurut Ngatijo sampai hari ini, belum banyak nelayan yang pergi ke laut karena sekali melaut membutuhkan biaya sebesar Rp 75.000 untuk beli solar mesin tempel kapal. Sedangkan hasil tangkapan yang didapatkan minim sekali, kalau dijual di pasaran uang yang didapat sekitar Rp 100.000 - 150.000. "Uang sebesar itu tidak banyak jumlahnya, karena sekali melaut satu kapal diawaki empat orang. Setelah dapat ikan, uang penjualan masih dipotong biaya beli solar dan bayar cicilan kapal. Itu kalau dapat ikan banyak, kalau sedikit ya tombok," katanya.
(gtp/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































