Beri Santunan ke Keluarga Petugas KPPS di Tangsel, KPU: Kami Merasa Kehilangan

Rolando - detikNews
Jumat, 03 Mei 2019 11:01 WIB
(Foto: Rolando/detikcom)
Jakarta - KPU memberikan santunan kepada keluarga anggota KPPS yang meninggal dunia seusai Pemilu 2019. Santunan diserahkan sebagai bentuk sambung rasa kepada keluarga petugas KPPS.

Santunan diserahkan kepada anggota KPPS bernama Mangsud yang beralamat di Jalan Swadaya RT 05/002, Kampung Buaran, Serpong Utara, Tangerang Selatan, Jumat (3/5/2019). Pemberian santunan dipimpin langsung oleh komisioner KPU Evi Novida Ginting dan Pramono Ubaid Tanthowi.



Evi merasa kehilangan atas meninggalnya Mangsud. Bagi Evi, Mangsud adalah sosok anggota KPPS yang bekerja dengan penuh semangat.

"Kami merasa kehilangan ya. Ini merupakan sambung rasa kepada keluarga. Beliau melaksanakan tugas dengan sungguh-sungguh dan semangat ya. Sehingga tidak memperhatikan kesehatan," ujar Evi.


Beri Santunan ke Keluarga KPPS di Tangsel, KPU: Kami Merasa KehilanganFoto: Rolando/detikcom

Evi berharap masyarakat tidak surut antusiasnya untuk menjadi bagian dari penyelenggara pemilu. Menurut Evi, menjadi penyelenggara pemilu adalah pekerjaan yang mulia.

"Ini tentu bagian dari kita untuk mengingat bahwa kita berharap masyarakat untuk menjadi penyelenggara pemilu ini juga lebih antusias seharusnya, bukan menyurutkan. Ini juga menunjukan bahwa mereka yang menjadi penyelenggara pemilu ini seharusnya membangun semangat dan seluruh masyarakat untuk terlibat dalam penyelenggaraan pemilu ke depannya," kata Evi.

"Ini merupakan perkerjaan yang mulai, pekerjaan penuh tangggung jawab untuk mengabdi kepada bangsa dan negara," sambungnya.

Sementara itu, istri almarhum Mangsud, Supriyati menerima santunan ini secara langsung sebesar Rp. 36.000.000. Di depan Evi dan Pramono, Supriyati bercerita saat suaminya menghembuskan nafas terakhir.

"Jadi pas hari H (tanggal 27 April 2019) pas meninggal, dia becanda (mau) malem mingguan. Dia masih fit. Habis (acara) selametan, dia masih dengerin ustazah. Pas hari itu biasa," tutur Supriyati.

"Dari setengah 11 (malam) batuk, sama tetangga mau dibawa ke Omni, tapi dibawa ke klinik yang deket. Dikasih bantuan, menurut dokter harus dibawa ke rumah sakit besar. Akhirnya dibawa ke (rumah sakit) Omni. Ketika di kereta dorong masih sadar. (Kepalanya) turun ke pundak saya. Saya nggak tahu ternyata dia sudah nggak sadar," sambungnya.

Supriyati mengatakan jantung suaminya sempat dipacu oleh dokter. Namun, nyawa sang suami tidak tertolong.

"Akhirnya dipacu (jantungnya). Di dalem ditemenin saudara saya. Dari sana saya dipanggil 'Bude, Pakde sudah meninggal'. Dari situ saya sadar bapak udah meninggal," ucapnya.

Menurut Supriyati, suaminya adalah sosok yang tidak suka mengeluh. Saat kelelahan setelah bertugas di KPPS pun suaminya tidak mengeluh.

"Yaudah dari situ dia sudah meninggal. Awalnya cuma batuk. Ternyata Allah lebih sayang dia. Dia orangnya nggak suka ngeluh kalo nggak terlalu (sakit)," imbuhnya.


Saksikan juga video 'Alhamdulillah! Dana Santunan untuk Petugas KPPS Segera Cair':

[Gambas:Video 20detik]

(knv/knv)