TKN Baca Pesan AHY: Koalisi Prabowo Retak, PD Ingin Gabung ke Kapal Kokoh

Elza Astari Retaduari - detikNews
Kamis, 02 Mei 2019 18:57 WIB
AHY setelah bertemu dengan Jokowi. (Wahyu Putro A/Antara Foto)
Jakarta - Komandan Kogasma Partai Demokrat (PD) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyebut ingin ambil bagian untuk mewujudkan Indonesia semakin lebih baik lagi setelah bertemu dengan calon presiden petahana Jokowi. Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin membaca isyarat yang disampaikan AHY itu.

"Apa yang disampaikan Agus itu hal-hal normatif yang sebetulnya sudah ada di visi-misi Pak Jokowi. Kalau mau ikut ambil bagian atas mau visi-misi itu, kami buka ruangnya. Tapi kan ada pesan politiknya kalau dilihat dari koalisi 02," ujar Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma'ruf, Johnny G Plate, kepada wartawan, Kamis (2/5/2019).

Kedatangan AHY bertemu dengan Jokowi dianggap sebagai bentuk keretakan koalisi Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Ini menyusul unggulnya Jokowi-Ma'ruf Amin versi hitung cepat.

"Itu menunjukkan perahu koalisi 02 semakin besar keretakannya, sehingga para penumpangnya tidak dalam perahu koalisi atau kru utama koalisi itu sudah mulai beramai-ramai mengambil pelampung penyelamat, meninggalkan perahu retak dan bergabung ke kapal kokoh yang sedang berlayar," jelas Johnny.


Kapal kokoh yang dimaksudnya adalah koalisi Jokowi. Johnny menilai langkah Demokrat meninggalkan Prabowo-Sandiaga, meski secara halus, merupakan hal rasional dalam kondisi saat ini.

"Kapal kokoh ya kapalnya Pak Jokowi, karena sudah memenangi pilpres, hanya tinggal menunggu formalitas," ucap Sekjen NasDem itu.

"Anggota koalisi 02 rasional, mereka melihat hasil pilegnya memuaskan mereka. Demokrat, PAN, PKS, hasil pileg memuaskan. Jadi perahu pilpres ditinggal karena sudah nyaman. Itu rasional sebagai politisi," lanjutnya.

Menurut Johnny, manuver Jokowi dan timses membuka pintu untuk koalisi Prabowo-Sandiaga juga rasional. Ia menyebut soal politik gotong royong yang menjadi ciri khas di Indonesia.

TKN Baca Pesan AHY: Koalisi Prabowo Retak, PD Ingin Gabung ke Kapal KokohJohnny G Plate. (Tsarina/detikcom)

"Politik Indonesia adalah berbasis gotong royong. Kita tidak mengenal oposisi murni. Banyak sekali peran anak bangsa yang bisa dilibatkan dalam pembangunan bangsa, baik di luar maupun di dalam kabinet. PAN dan Demokrat melihat kerja sama itu," kata Johnny.

Demokrat dan PAN, disebutnya, bisa bekerja sama dengan Koalisi Indonesia Kerja di luar maupun di dalam kabinet Jokowi-Ma'ruf nantinya. Kerja sama di luar kabinet pun, menurut Johnny, masih sangat memungkinkan, termasuk di parlemen.

"Di dalam kabinet, terbuka kerja samanya. Tapi ada syaratnya. Kami koalisi 01 dan siapa pun nanti yang gabung harus hormati hak prerogatif presiden. Jangan maksa-maksa Presiden. Dan harus menyadari dan menyesuaikan diri dengan visi-misi Pak Jokowi-Kiai Ma'ruf," ucapnya.

Jika ingin bergabung dengan Kabinet Jokowi, Demokrat dan partai yang akan bergabung lainnya diminta tidak memaksakan konsep mereka. Partai-partai yang akan ikut merapat ke kubu Jokowi diharapkan bisa menyesuaikan diri.

"Jangan bawa konsep sendiri sebagaimana kami menyesuaikan visi-misi partai kami dengan visi-misi Pak Jokowi-Kiai Ma'ruf karena itu yang di-endorse mayoritas rakyat. Jadi tidak bawa visi-misi partainya, atau visi-misi Pak Prabowo dibawa ke situ. Itu syaratnya," tegas Johnny.


Soal AHY yang mengaku memberikan masukan kepada Jokowi, TKN memberikan apresiasi. Apalagi setelah penetapan KPU nanti, Jokowi-Ma'ruf akan bersiap menyusun Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJMN), yang merupakan acuan pembangunan 5 tahun ke depan.

"Jadi, kalau Agus datang atau siapa pun, akademisi yang ketemu Pak Presiden, kelompok-kelompok masyarakat, asosiasi profesi, tentu ruangnya dibuka luas," katanya.

Johnny pun menilai kedatangan AHY bertemu dengan Jokowi sekaligus sebagai pertanda mengingatkan koalisi Prabowo-Sandiaga untuk realistis. Ia meminta pasangan nomor urut 02 itu mengakui kekalahan secara terhormat.

"Sekaligus mengingatkan koalisi 02, kan yang tersisa Gerindra dan nonpartai, relawan-relawan, agar mengambil keputusan yang realistis. Untuk kepentingan negara, demokratis, untuk exit terhormat, atau kekalahan yang terhormat," sebut Johnny.

"Sudah momentumnya bagi Prabowo-sandi untuk mengambil keputusan yang rasional sehingga dapat mengakhiri ini secara terhormat dan dihormati, baik di dalam negeri maupun internasional," tambahnya.

Meski begitu, TKN Jokowi-Ma'ruf menghormati apabila kubu Prabowo-Sandiaga tetap ingin menggugat hasil Pilpres 2019. Hal tersebut memang diberi ruang oleh hukum.

"Kami memahami UU memungkinkan untuk ke MK dan seterusnya dengan tentu iklim nasional kita harus sama-sama meneduhkannya," urai Johnny.

Seperti diketahui, AHY bertemu dengan Jokowi di Istana Negara. Setelah berbicara empat mata selama satu jam, AHY mengungkapkan isi pertemuannya secara tersirat. Ia mengaku ingin ambil bagian besar menjadikan Indonesia yang lebih baik.

"Ini adalah sebagai silaturahmi yang kami jalankan setiap saat, insyaallah. Sebelumnya kan silaturahmi harus dilakukan, komunikasi itu tidak harus selalu bicara komunikasi politik pragmatis, tapi juga ada hal-hal besar lainnya. Kita juga selalu harus bisa membangun semangat untuk menjadi bagian besar mewujudkan Indonesia yang semakin baik ke depan," ungkap AHY setelah bertemu dengan Jokowi.



Tonton video saat AHY Temui Jokowi: Tukar Pikiran agar Indonesia Makin Baik:

[Gambas:Video 20detik]

(elz/fjp)