Keluarga Histeris dan Pingsan

Identifikasi Korban Bom Bali

Keluarga Histeris dan Pingsan

- detikNews
Minggu, 02 Okt 2005 09:51 WIB
Denpasar - Proses identifikasi jenazah korban tewas terus dilakukan aparat kepolisian dan petugas forensik. Keluarga dan kerabat korban didatangkan ke RSUP Sanglah, Denpasar. Di antara mereka, tampak histeris, bahkan ada yang pingsan. Pemantauan detikcom, Minggu (2/10/2005), di kamar mayat RSUP Sanglah, petugas mengambil foto terhadap jenazah-jenazah. Hingga pukul 10.30 Wita, sudah ada 17 jenazah yang berhasil diidentifikasi. Dalam proses identifikasi ini, aparat juga memanggil pihak keluarga dan kerabat yang merasa kehilangan anggota keluarga atau temannya. Mereka diberi kesempatan satu per satu untuk melihat jenazah-jenazah yang belum teridentifikasi. Sejumlah orang tampak histeris dan pingsan begitu melihat anggota keluarga atau temannya terbujur kaku tidak bernyawa. Seorang pemuda yang memakai topi tampak pingsan setelah melihat jenazah temannya, Athur Calvino (18). Pemuda ini menemukan jenazah teman kuliahnya itu di jajaran jenazah warga Australia. Tidak berapa lama melihat jenazah Athur, seorang pemuda ini langsung pingsan. Athur Calvino sempat dikira petugas forensik sebagai warga Australia. Raut wajahnya memang seperti orang bule, kulitnya putih. Namun, Athur sebenarnya adalah warga Semarang yang sedang di kuliah di Bali. Dia indekos di Jl. Danau Brata, Denpasar. Karena wajahnya mirip bule itulah, Athur dikelompokkan sebagai jenazah dari Australia.Pemuda yang pingsan itu sebelumnya sudah bisa memastikan bahwa jenazah itu adalah Arthur. Athur teridentifikasi dari cincin yang dikenakannya, dan wajahnya pun masih utuh. Sementara keluarga dari korban Elli Sunarto (23), warga Jl. Industri 8, nomor 29, Jakarta, tampak histeris dan tidak mampu menahan tangis. Dua kakak Elli datang ke RSUP Sanglah untuk memastikan jenazah adiknya itu. Begitu melihat adiknya sudah tidak bernyawa, keduanya langsung menangis histeris. Menurut salah satu dari mereka, Elli datang ke Bali untuk liburan bersama seorang temannya. Hingga saat ini, teman Elli belum diketahui nasibnya. Keluarga lain yang tidak bisa menahan tangis adalah keluarga dari korban Edwin Sindu. Edwin, pemuda berumur 22 tahun dan tinggal di Jl. Nusakambangan, Jimbaran tewas saat makam malam di kafe Nyoman."Malam itu sempat pamit mau makan malam. Begitu ada bom, Edwin tidak pulang. Setelah itu kita curiga dan ternyata di sini," kata Yenni, kakak Edwin, sedih. Ibunda Edwin juga tak bisa menahan tangis setelah melihat anaknya tewas. (asy/)



Berita Terkait