DetikNews
Selasa 30 April 2019, 17:09 WIB

Era Disrupsi, Anak-anak Muda Jadi Konsumen Dominan Wisata Murah Meriah

Zakia Liland - detikNews
Era Disrupsi, Anak-anak Muda Jadi Konsumen Dominan Wisata Murah Meriah Seminar nasional 'Pengembangan Bisnis dan Industri Kepariwisataan di Era Disrupsi', di auditorium Universitas Sahid. (Zakia/detikcom)
Jakarta - Di era pertumbuhan pesat teknologi informasi ini, pola jalan-jalan masyarakat dipengaruhi oleh aplikasi yang terpasang di ponsel masing-masing. Anak muda-anak muda menjadi yang paling gesit beradaptasi. Mereka mendominasi aktivitas traveling zaman ini.

"Yang menarik adalah sekarang ini ada perubahan yang cukup mendasar dari konsumen kita, yaitu konsumen Generasi Y atau milenial, lahir pada pertengahan '80-an hingga '90-an. Juga generasi Z yang lahir tahun '90-an hingga 2000-an. Mereka yang mewarnai dunia konsumen kita," kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Hariyadi Budi Susanto Sukamdani, di seminar nasional 'Pengembangan Bisnis dan Industri Kepariwisataan di Era Disrupsi', di auditorium Universitas Sahid Jl DR Soepomo, Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (30/4/2019).

Anak muda yang mulai mendominasi aktivitas pelesiran sekarang bukan hanya Generasi Y yang sering disebut sebagai kaum milenial, namun juga termasuk generasi paling muda yakni Generasi Z. Mereka terpantau menjadi konsumen utama bisnis pariwisata level murah meriah.



"Mereka kenyataannya walaupun tidak mengisi segmen pasar menengah tapi di sektor pasar menengah bawah mereka sangat dominan," kata Hariyadi.

Berdasarkan data dari agensi marketing asal Negeri Paman Sam, Hariyadi menyampaikan prediksi untuk 2030. Kelak, Asia akan menjadi rumah dari 57% populasi dunia, yang tak lain adalah penduduk usia 15 hingga 34 tahun. China dipandang dunia berpotensi mendulang persentase kaum muda dunia. Indonesia juga perlu mempersiapkan diri untuk mengelola potensi kaum mudanya di bidang pariwisata.

"Kita harusnya bisa menarik tidak hanya wisatawan dari luar tapi dari dalam negeri sendiri, kita bisa melakukan inovasi dan membuat program kita itu digemari wisatawan," kata dia.



Dia kemudian bicara soal disrupsi. Teori mengenai disrupsi ini pertama kali dipopulerkan oleh profesor Harvard Clayton M. Christensen dalam penelitiannya tentang industri disk drive dan kemudian dipopulerkan oleh bukunya The Innovator's Dilemma yang diterbitkan pada 1997. Teori disrupsi menjelaskan fenomena di mana sebuah inovasi dapat mengubah hal yang ada dengan memperkenalkan kesederhanaan, kenyamanan, aksesibilitas, dan keterjangkauan (simplicity, convenience, accessibility, and affordability).

Yang disampaikan Hariyadi, pengguaan ponsel pintar dan internet oleh kaum muda Indonesia mendorong terjadinya disrupsi di bidang pariwisata. Terjadi perubahan mendasar. Tentu ada dampak dari perubahan akibat kemajuan teknologi, tapi ada pula yang bertumbuh. Aplikasi jaringan pasar penginapan misalnya, inovasi itu membuat pengusaha penginapan dan hotel konvesnional waspada.

"Sekarang pemain konvensional juga agak deg-degan karena seperti Airbnb itu 72% totalnya," kata Hariyadi.

Kaum milenial di Indonesia yang menggunakan ponsel pintar ada 143 juta tahun lalu. Diperkirakan tahun 2019 angkanya menjadi 160 juta.



Untuk pariwisata Indonesia secara umum, kondisinya dirasakan pengusaha hotel berkembang ke arah baik. Indonesia kini menjadi destinasi wisata halal terpopuler tahun 2019. Indonesia juga membebaskan visa untuk 169 negara, menjadikan Republik ini sebagai nomor satu dalam penerapan bebas visa. Kunjungan wisatawan ke Indonesia tahun 2018 meningkat 12,58%.

Turis Indonesia pada 2018 tercatat sebanyak 15,8 juta orang, bandingkan dengan Thailand yang mendatangkan turis pada 2018 sebanyak 32 juta orang. Namun kapasitas kamar di Indonesia lebih banyak ketimbang Thailand. Indonesia punya total kapasitas kamar sekitar 620 ribuan kamar, sedangkan Thailand hanya sekitar 350 ribu kamar. Potensi bisnis makanan di Indonesia sebesar Rp 844 triliun.



Pengusaha hotel dikatakannya sudah membikin lebih dari 300 paket wisata, baik hot deals maupun yang umum. Namun program ini tidak berjalan seperti yang diharapkan karena dukungan pemerintah masih diharapkan. Pemerintah diharap bisa menengahi pengusaha hotel dengan perusahaan maskapai untuk melancarkan program itu.

Era Disrupsi, Anak-anak Muda Jadi Konsumen Dominan Wisata Murah MeriahSeminar nasional 'Pengembangan Bisnis dan Industri Kepariwisataan di Era Disrupsi', di auditorium Universitas Sahid. (Zakia/detikcom)

Dalam acara ini hadir pula Direktur detikcom, Abdul Aziz. Dia berbicara soal CT Corp, perusahaan yang didirikan oleh Chairul Tanjung tahun 1987. CT Corp kini punya sayap bisnis yang menaungi dari sektor perbankan hingga media massa.
Sebut saja nama-nama besar seperti Bank Mega, Carrefour, Trans TV, Trans 7, detikcom, CNN, hingga CNBC. Perusahaan yang bernaung di CT Corp istimewa dan berbeda dengan yang lain, misalnya Transmart dan Bank Mega.

"Yang fenomenal adalah Transmart. Jadi, kalau yang lain tutup, tutup, tutup, kita buka, buka, buka. Saya berani katakan bahwa Bank Mega itu adalah satu-satunya bank yang dimiliki oleh orang Indonesia," kata Abdul Aziz.


(dnu/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed