Angkutan di Yogya Juga Mogok

Angkutan di Yogya Juga Mogok

- detikNews
Sabtu, 01 Okt 2005 16:03 WIB
Yogyakarta - Ratusan angkutan umum di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) hari ini juga aksi mogok. Aksi yang digelar sejak pagi hingga siang hari itu sebagai bentuk protes atas kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM mulai hari ini 1 Oktober 2005.Akibat pemogokan tersebut, para penumpang yang ada di sekitar Terminal Jombor - Mlati di Jl Magelang dan sub terminal Tempel, Sleman sempat terlantar di berbagai tempat. Namun hal itu tidak menimbulkan penumpukan yang berarti. Para penumpang yang terlantar, terpaksa ada yang diangkut menggunakan truk milik kepolisian dan mobil milik Satpol PP.Angkutan umum yang mogok tersebut di antaranya angkutan pedesaan (angkudes), bus angkutan antarkota dalam provinsi (AKDP) dan angkutan antarkota antarprovinsi (AKAP) berbagai daerah tujuan. Ratusan angkutan tersebut ada yang hanya diparkir di terminal dan halte angkutan di beberapa tempat. Namun ada pula sopir dan pemilik angkutan yang sengaja sejak pagi tidak mengoperasikan kendaraannya.Berdasarkan pantauan detikcom hari ini, Sabtu (1/10/2005), bus kota Yogyakarta tidak melakukan pemogokan. Namun angkutan di Kabupaten Bantul sedikitnya 300 bus Koperasi Abadi mogok total. Ratusan bus tersebut melayani jurusan seperti Yogyakarta - Srandakan, Yogyakarta-Parangtritis, Yogayakarta - Sorobayan dan Yogyakarta - Imogiri.Di Kabupaten Sleman, armada yang mogok adalah bus AKAP jurusan Yogyakarta - Magelang - Semarang, jurusan Yogyakarta - Tempel dan Muntilan Kabupaten Magelang, Yogyakarta - Prambanan - Klaten dan bis AKDP Sleman. Sedangkan angkudes Sleman milik Koperasi Pemuda sebagian ada yang beroperasi dan sebagian ada juga yang tidak beroperasi.Menurut Ketua Koperasi Abadi Bantul, Joko Harsono, aksi mogok hari ini dilakukan sebagai bentuk protes kenaikan harga BBM. Sebab kenaikan BBM saat ini memberatkan para pemilik dan sopir angkutan. Saat ini biaya operasional kendaraan per hari sangat tinggi dengan harga solar mencapai Rp 4.300/liter. Namun pendapatan yang diperoleh juga minim sekali, belum dipotong biaya makan dan lain-lain."Kami meminta pemerintah setempat menetapkan tarif baru. Sebelum ada kenaikan BBM, pengahasilan kita sudah pas-pasan. Apalagi sekarang, kita bisa terus nombok kalau jalan. Bahkan untuk pemeliharaan dan pembelian spare part juga semakin mahal. Bila seperti ini terus keadaannya kami tetap akan mogok," katanya.Sikap OrgandaMenyikapi maraknya aksi mogok tersebut Ketua Organda DIY Johny Pramantya meminta agar kru bus tetap beroperasi sambil menunggu kebijakan kenaikan tarif yang secepatnya akan dibicarakan antara pengurus Organda DIY dengan Gubernur dan DPRD DIY. Namun bila tidak ada kenaikan tarif angkutan para pemilik maupun sopir angkutan bisa merugi. Oleh karena itu, sambil menunggu keluarnya kebijakan yang resmi dari pemerintah DIY, para kru bus diperbolehkan menaikkan tarif sementara antara 20-30 persen."Saat ini kita sudah berkoordinasi dengan pemerintah daerah yakni Dishub DIY untuk menghitung seberapa besar kenaikan tarif. Kita harapkan ini secepatnya ditetapkan agar semua menjadi jelas," katanya.Menurut dia, Organda DIY belum bisa memperkirakan berapa persen kenaikan tarif angkutan yang ideal di Yogyakarta setiap kilometernya. Sebab semua itu harus dihitung berdasar kondisi di lapangan dan tidak hanya berdasarkan atas kenaikan BBM saja. "Soal biaya perawatan dan suku cadang juga akan kita perhitungkan seluruhnya," katanya. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads