TKN Tanggapi Ucapan Mahfud 'Provinsi Garis Keras': Bisa Benar, Bisa Salah

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Senin, 29 Apr 2019 08:43 WIB
Raja Juli Antoni (Foto: Ari Saputra)
Jakarta - Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin mengaku tidak tahu persis terkait maksud pernyataan eks Ketua MK Mahfud Md yang menyebut daerah yang dimenangkan capres Prabowo Subianto dulunya dianggap 'provinsi garis keras'.

Namun TKN menduga Mahfud ingin menjelaskan sebuah fenomena politik hari ini. Aspek agama dinilai merupakan salah satu penjelasan dari kompleksnya pembahasan politik.

"Politik sangat kompleks. Pak Mahfud mungkin mencoba menerangkan sebuah fenomena politik. Aspek agama mungkin hanya salah satu penjelasan saja. Bagai mana dengan aspek kultural? Perspektif ekonomi?" kata Wakil Sekretaris TKN Jokowi-Ma'ruf, Raja Juli Antoni, kepada wartawan, Senin (29/4/2019).



Dalam pemahaman Toni, studi mengenai politik Indonesia harus dilakukan secara utuh. Sebab, menurut dia, Indonesia merupakan negara dengan yang kaya dengan fenomena politik.

"Kita perlu studi yang lebih komprehensif melihat politik Indonesia. Tidak salah banyak ahli yang mengatakan Indonesia adalah "laboratorium politik" dunia di mana teori-teori banyak diuji secara empiris, data dan fakta sosial banyak berserakan," ujarnya.



Terlepas dari itu, Toni mengatakan penjelasan Mahfud soal fenomena politik hari ini bisa benar dan salah. Namun dia mengapresiasi sikap Mahfud yang sudah memulai menjelaskan fenomena politik dengan didasari argumen akademik.

"Sekali lagi Pak Mahfud, saya kira hanya berusaha menjelaskan sebuah fenomena politik. Bisa benar dan bisa salah. Tapi Pak Mahfud sudah memulai sebuah wacana yang patut disambut dengan argumen-argumen akademik bukan hanya politis," tuturnya.



Sebelumnya, pernyataan soal 'Provinsi Garis Keras' itu disampaikan Mahfud dalam wawancara di salah satu stasiun TV. Video potongan wawancara yang berdurasi 1 menit 20 detik lalu beredar di media sosial. Pernyataan Mahfud ini kemudian direspons oleh tim Prabowo-Sandiaga, mulai dari Waketum Gerindra Fadli Zon hingga Koordinator Jubir BPN Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak, termasuk Said Didu.

Mahfud sudah memberi penjelasan, istilah 'garis keras' adalah istilah biasa dalam ilmu politik. Dia mengambil contoh daerah asalnya, Madura.

"Dalam term itu saya juga berasal dari daerah garis keras yaitu Madura. Madura itu sama dengan Aceh dan Bugis, disebut fanatik karena tingginya kesetiaan kepada Islam sehingga sulit ditaklukkan. Seperti halnya konservatif, progresif, garis moderat, garis keras adalah istilah-istilah yang biasa dipakai dalam ilmu politik," jelas Mahfud.


Saksikan juga video 'Saat Elite TKN Salami dan Sapa 'Siap Presiden' ke Jokowi':

[Gambas:Video 20detik]

(knv/fai)