Pengamen Pun Senandungkan Protes BBM

Pengamen Pun Senandungkan Protes BBM

- detikNews
Sabtu, 01 Okt 2005 11:58 WIB
Jakarta - BBM naik tinggi susu tak terbeli.., demikian sejumput bait lagu Galang Rambu Anarki milik Penyanyi Iwan Fals yang dibawakan seorang pengamen di bus kota. Pengamen ini seolah mewakili benak penumpang bus Patas AC 73 yang terlihat lesu dan kesal karena harus menghadapi kenaikan BBM yang kelewatan.Sambil menyimak lagu itu, terdengar penumpang saling berkeluh kesah dengan penumpang disampingnya yang kecewa berat dengan kebijakan pemerintah ini. Pengamen itu tahu benar, kalau lagu ini cocok dinyanyikan hari ini.Meski sudah tahu bakal ada kenaikan BBM pada 1 Oktober ini, umumnya masyarakat terkaget-kaget melihat besaran kenaikannya. Bayangkan premiun naik 87,5 persen dari Rp 2.400 menjadi Rp 4.500 per liter. Solar naik 95,45 persen dari Rp 2.200 menjadi Rp 4.300 per liter. Dan lebih gila lagi, BBM yang kebanyakan digunakan rakyat kecil justru mengalami kenaikan paling tinggi 185,71 persen dari Rp 700 menjadi Rp 2.000 per liter. Duh.... Walaupun pemerintah berkali-kali menjelaskan alasan kenaikan BBM karena anggaran negara yang kurang, harga minyak dunia tinggi, tetap saja sulit bagi masyarakat untuk memahaminya. Apalagi, pendapatan masyarakat dalam tiga tahun terakhir juga tidak naik sebesar kenaikan BBM. Belum lagi krisis ekonomi yang belum sembuh benar membuat masyarakat masih sulit mencari kerja, nyaris seperti mencari jarum dalam jerami. "Kalau naik yang kira-kira gitu, emangnya penghasilan kita naik," ujar seorang penumpang yang ditanggapi senyum kecut oleh penumpang disebelahnya."Koran...koran.., BBM naik rakyat menjerit," ujar seorang tukang koran. Seorang penumpang wanita tampak mengeluarkan lembaran Rp 1.000 untuk membeli sebuah koran berbentuk kompak."Sekarang Rp 1.500 Mbak, BBM kan naik. Kalau yang ini (dia menunjuk koran olah raga) masih Rp 1.000," kata si penjual. Ya ampun, sepertinya hari ini semua barang-barang sudah langsung naik.Pagi ini saja banyak orang mengeluhkan tukang koran langganannya yang mengingatkan kalau mulai 1 Oktober, harga beberapa koran naik. Langganan dikenakan biaya Rp 70.000-Rp 75.000 untuk sebuah koran nasional. Padahal di ujung kiri atas koran tersebut jelas-jelas dicantumkan harga langganan Rp 67.000 per bulan.Begitu juga dengan tukang sayur keliling. Banyak ibu-ibu di kompleks perumahan terkaget-kaget dengan harga sayuran yang ikut melonjak tinggi. Harga cabe merah yang Jumat (30/9/2005) masih Rp 12.500 per kilogram, hari ini langsung naik Rp 25.000 per kilogram.Suara pengamen masih terdengar: maafkan kedua orangtuamu, kalau tak mampu beli susu bbm naik tinggi, susu tak terbeli orang pintar tarik subsidi, mungkin bayi kurang giziAkhirnya, pagi ini masyarakat harus memulai harinya dengan kejengkelan. Ongkos angkot naik, bis naik, sayur naik, koran naik.....apa yang turun ya? mudah-mudahan itu bukan harga diri. (ir/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads