Petugas Tak Berdaya Hadapi Sopir Bus yang Naikkan Tarif
Sabtu, 01 Okt 2005 11:13 WIB
Jakarta - Ulah sopir angkot dan bus yang menaikkan tarif sekitar Rp 500-Rp 1.000 pascakenaikan harga BBM, membuat mati kutu petugas Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Petugas mengaku tidak bisa berbuat apa-apa dengan kebijakan sepihak yang dilakukan para sopir tersebut."Kami tidak bisa menindak meski belum ada pengumuman resmi (kenaikan tarif). Kalau pun kami harus menindak sopir, rasanya tidak mungkin," kata Komandan Regu I Terminal Blok M dari Dishub DKI Jakarta, Awani Zaironi kepada detikcom di kantornya, Jalan Sultan Hasanuddin, Jakarta, Sabtu (30/9/2005).Awani mengaku tidak bisa berbuat apa-apa mengingat melejitnya harga BBM yang dinaikkan secara resmi mulai hari ini. "Jadi susah, kalau harus kita sita juga nggak mungkin. Kita tidak punya dasar," kata dia.Meski di beberapa wilayah kenaikan tarif angkot mulai diberlakukan, di Pondok Gede, Bekasi, tarif mikrolet belum mengalami kenaikan. Namun sejumlah sopir mengaku akan menaikkan ongkos dalam dua hari ini tanpa perlu menunggu keputusan pemerintah."Besok kayaknya sudah mau naik, nggak pakai nunggu apa kata pemerintah," kata Mamat, sopir angkutan jurusan Pondok Gede-Kampung Rambutan. Mamat mengaku tidak bisa menunggu pengumuman kenaikan tarif resmi dari pemerintah, karena biasanya tarif baru itu baru akan diterapkan seminggu setelah kenaikan BBM.Sekedar diketahui, saat ini harga premium mencapai Rp 4.500/liter dari Rp 2.400/liter, minyak tanah Rp 2.000/liter dari Rp 700/liter, solar Rp 4.300/liter dari Rp 2.100/liter.
(umi/)











































