Sebuah perahu kayu bermesin membelah sungai Kapuas saat mengantar sejumlah perempuan yang tengah berjuang untuk memberikan bimbingan kepada perempuan desa di Dusun Kampung Baru, Desa Sungai Ambangah, Kubu Raya, Kalimantan Barat.
Salah satunya yakni Yunida. Ia bersama rekannya yang lain setiap 2 kali dalam seminggu mengajar untuk para perempuan desa di Akademi Paradigta. Sebuah tempat pelatihan di desa yang bertujuan untuk membentuk kepemimpinan perempuan di tingkat desa, dan bagaimana peran perempuan bisa ditingkatkan.
Yunida mengisahkan awal dirinya gabung menjadi mentor atau fasilitator Akademi Paradigta sejak 2016. Sebelum bergabung, awalnya dirinya merasa tidak yakin untuk diterima menjadi mentor atau fasilitator.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namun, saya tidak putus semangat meski hanya lulusan SMA. Saya sempat mengikuti pelatihan di Jakarta dan harus mempelajari 10 modul selama seminggu," kata Yunida, dalam keterangan tertulis, Jumat (26/4/2019).
Selama menjadi mentor atau fasilitator, lanjut Yunida, berbagai tantangan harus dihadapi. Salah satunya, ia harus berjuang untuk mengajar ke tempat yang jauh dari rumahnya hingga memakan waktu sekitar 3 jam dengan menggunakan motor.
"Saya berangkat dari rumah menggunakan motor. Karena akses ke tempat latihannya harus menyeberang sungai, maka motor saya naikkan ke atas perahu. Selama pakai motor, kadang hujan angin dan jalanpun kurang bagus. meskipun begitu, saya harus tetap semangat pergi mengajar karena ingin perempuan desa bisa lebih maju," kata Yunida.
Namun dengan perjuangan seperti itu, para peserta di akademi paragdita pun turut bersemangat dalam belajarnya dan memiliki keinginan yang kuat dalam memajukan desanya. Salah satu peserta yakni Srimawarni, dirinya adalah seorang kader penyuluh KB yang menjadi peserta atas rekomendasi dari Kepala Desa.
Srimawarni merasa bersyukur dengan adanya Akademi Paradigta ini karena membangkitkan kaum perempuan di desa untuk maju dalam berpikir dan berani dalam menyerukan pendapatnya. Sehingga bisa mengabdi dan memajukan desanya sendiri.
"Dengan belajar di Akademi Paradigta ini kami para perempuan bisa melibatkan diri dalam pembangunan desa, sehingga perempuan di desa tidak tertinggal lagi. Seorang perempuan desa jadi tahu tentang Permendes dan APBDes dan tahu fungsinya untuk apa, jadi kita lebih berani mengungkapkan pendapat dan keinginan kita," ujar Srimawarni.
Sementara itu, Koordinator Pendidikan Akademi Paradigta, Kholilah mengatakan tantangan mentor atau fasilitator dan peserta belajar salah satunya permasalahan transportasi yang pembangunan jalannya belum meratab atau jalan rusak. Sehingga, para mentor dan peserta belajar harus naik sampan.
"Faktor cuaca juga menjadi salah satu tantangan. Namun, dengan semangat belajar dan mengajar, hambatan itu jadi tidak dipikirkan," katanya.
Kholilah menjelaskan, Akademi Paradigta bertujuan untuk membentuk kepemimpinan perempuan di tingkat desa, dan bagaimana peran perempuan bisa ditingkatkan. oleh karena itu, dalam materi yang diberikan Akademi Paradigta, para peserta diberikan pelatihan selama satu tahun dari mulai materi advokasi/ paralegal, belajar APBDes, Musdes, kemudian ada tugas akhir dan wisuda.
"Dampak atau perubahan di antaranya adanya partisipasi, kontrol masyarakat terhadap anggaran desa, dana PAUD meningkat atas usulan ibu-ibu yang jadi berani bicara, menolong identitas hukum masyarakat, bahkan beberapa ada yang mencalonkan diri jadi BPD, caleg, Kades, dan Kader Desa," katanya.
Perlu diketahui, Pemberdayaan perempuan terus digenjot untuk masyarakat desa. Hal itu dinilai penting karena perempuan berperan dalam peningkatan sumber daya dan pemberdayaan ekonomi di desa. Salah satu upaya yang dilakukan ,Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) dengan pemerintah daerah di Kabupaten Kubu Raya dan Yayasan PEKKA (Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga) mengadakan Akademi Paradigta.
Kemendes PDTT turut mendukung kegiatan Yayasan Pekka dan Pemda dalam rangka meningkatkan kapasitas dan kapabilitas masyarakat desa. Hal itu sejalan dengan Permendes PDTT Nomor 16 tahun 2018 tentang prioritas penggunaan dana desa tahun 2019 yakni untuk membiayai program dan kegiatan bidang pemberdayaan masyarakat desa.
Seperti peningkatan partisipasi masyarakat, pengembangan kapasitas di desa, dan pengembangan ketahanan masyarakat desa. Melalui kegiatan ini, para peserta yang lulus diharapkan dapat memperkuat tata kelola desa sehingga pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa dapat terwujud dengan cepat dan transparan.
Informasi lainnya dari Kemendes PDTT bisa dilihat di sini.











































