Mantan Wakasad Curiga Ada Agenda Tersembunyi di Aceh
Jumat, 30 Sep 2005 18:22 WIB
Jakarta - Meski penandatanganan MoU RI-GAM sudah berlalu 1,5 bulan yang lalu, mantan Wakasad Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnarki curiga ada agenda tersembunyi di balik MoU tersebut yang belum terungkap.Dalam diskusi panel yang digelar di Hotel Milenium, Jakarta, Jumat (30/9/2005), ada tiga hal yang patut dicurigai tentang agenda tersembunyi di balik penandatangan MoU itu. Pertama, soal belum pernah dinyatakannya pembubaran GAM. Kedua, fakta bahwa GAM sudah membentuk Komite Peralihan Aceh. Pembentukan komite itu, menurutnya, sama dengan keputusan RI membentuk BPUPKI menjelang proklamasi kemerdekaan."Kalau dugaan itu terbukti, justru akan menurunkan tingkat kepercayaan pemerintah dan rakyat Indonesia pada AMM dan GAM," kata Kiki.Ketiga, terkait perundang-undangan di DPR. Persoalan ini bisa menjadi potensi kemandekan, mengingat proses tersebut sudah bersentuhan dengan eksistensi bangsa Indonesia.Kiki juga menilai titik rawan sukses tidaknya upaya desensitisasi atau menghilangkan rasa sensitif antara pihak yang konflik di Aceh tergantung proses politik ke depan. "Sesungguhnya proses desensitisasi kedua kelompok, seperti TNI/Polri dan GAM, tidak terlalu problematis karena keduanya diikat oleh kesepakatan MoU," katanya. Namun, lanjutnya, dimensi yang fundamental dan titik rawan yang menentukan sukses tidaknya upaya itu terletak pada proses politik yang menjadi kelanjutan dari proses demiliterisasi.
(umi/)











































