SBY Tantang Teknokrat Otomotif Bikin Kendaraan Hemat
Jumat, 30 Sep 2005 16:34 WIB
Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menantang teknokrat otomotif untuk merancang sarana tansportasi yang hemat energi di luar bahan bakar fosil."Kalau bisa tidak selalu menggunakan bahan bakar dari bahan fosil. Tapi dari sumber energi alternatif lainnya," kata Presiden dalam pidato saat meresmikan pabrik ketiga Astra Honda Motor di Cikarang, Bekasi Barat, Jawa Barat, Jumat (30/9/2005).Presiden menjelaskan, semakin bertambahnya kepemilikan kendaraan bermotor, menunjukkan bahwa tingkat perekonomian rakyat semakin membaik. Rakyat makin memiliki daya beli untuk mendapatkan alat transportasi.Namun di sisi lain, kata SBY, dengan pertambahan populasi kendaraan bermotor juga berarti meningkatnya permintaan BBM. Padahal produksi BBM nasional semakin menyusut.Untuk itu, tambah SBY, pemerintah dalam dua hingga empat tahun ke depan telah berencana untuk meningkatkan jumlah produksi nasional, menambah kilang minyak dan melakukan impor BBM.Namun demikian upaya-upaya tersebut tidak akan bisa mencukupi kebutuhan apabila permintaannya selalu meningkat. "Mau tidak mau transportasi kita harus sehemat mungkin terhadap penggunaan BBM. Saya kira kita bisa menggunakan teknologi tepat guna ini untuk menutup gap antara penawaran dan permintaan," kata SBY.Dalam kesempatan tersebut, presiden juga mengajak masyarakat menjadi bagian dari upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi, dengan ikut menjaga iklim investasi Indonesia."Jangan melakukan tindakan-tindakan destruktif. Jangan membuat citra negara kita tidak aman. Jangan menunjukkan seolah-olah terjadi ketidaktertiban apalagi kerusuhan," imbau SBY.Dijelaskan, citra negara yang tidak aman akan menyurutkan minat para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia, baik investor dalam negeri maupun internasional.Hal demikian akan memperlambat pertumbuhan ekonomi, dan dengan sendirinya juga berarti menghambat program-program pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sebab jika lapangan kerja semakin berkurang, daya beli masyarakat akan semakin turun dan semakin kecil pajak yang diterima negara."Saya sering merasa prihatin bila kita tidak memahami hanya dengan membangun investasi yang baik, investasi akan datang dari luar negeri dan investasi dalam negeri tumbuh dengan sendirinya," ujar SBY.
(qom/)











































