Pendemo BBM Semarang Sandera Anggota DPRD
Jumat, 30 Sep 2005 13:27 WIB
Semarang - Menjelang pengumuman kenaikan harga BBM, ratusan mahasiswa dari berbagai kampus di Semarang turun jalan. Dalam aksinya, mereka menyandera empat anggota DPRD Jateng dan mengajak berrtemu gubernur.Pendemo yang mengatasnamakan Rakyat Semarang Bersatu itu mengawali aksinya dari Bundaran Air Mancur Jalan Pahlawan. Setelah cukup memacetkan jalan, mereka menuju kantor DPRD Jateng yang jaraknya hanya 100 meter dari lokasi awal.Di kantor DPRD, sejumlah pendemo langsung memasuki ruangan. Mereka berhasil 'menangkap' Djohan Firdaus (FPAN), Agus Abdul Latief (FPKS), Widiyono (FPAN), dan Habib Ichsanuddin (FPP) yang baru saja selesai mengikuti rapat paripurna.Keempat anggota DPRD itu dibawa ke kantor Gubernur yang lokasinya bersebelahan dengan kantor DPRD. Di sana, salah satu anggota DPRD Djohan Firdaus sempat berorasi tapi hanya diteriaki mahasiswa. Akhirnya, anggota DPRD dan para mahasiswa masuk ke ruang Gubernur.Usaha tersebut gagal karena Gubernur tidak ada di tempat. Begitu juga dengan Wakil Gubernur. Sehingga anggota dewan dan para mahasiswa hanya ditemui empat orang staf Biro Perekonomian. Tidak puas, mahasiswa sempat mengancam akan bertindak keras."Kami cuma ingin Pemprov secara kelembagaan memberi pernyataan sikap menolak kenaikan BBM. Harus secara tertulis. Jangan sampai dialog ini hanya omong kosong belaka," kata salah satu pendemo, Imam.Karena tidak sabar menunggu teman-temannya yang sedang berdialog dengan perwakilan gubernur, pendemo mulai panas. Mereka sempat terlibat aksi saling dorong dengan puluhan aparat keamanan yang menjaga pintu masuk kantor Gubernur.Ratusan mahasiswa akhirnya menyerah. Mereka mengurungkan niatnya masuk ke ruangan karena yang dicari tidak berada di tempat. Mereka hanya mengancam akan melakukan aksi serupa esoknya.Sementara di pintu gerbang kantor DPRD, puluhan mahasiswa dari BEM Universitas Sultan Agung (Unisulla) berunjuk rasa dengan isu yang sama. Di Jalan Pahlawan, sejumlah aktifis PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) melakukan hal serupa. Kedua kelompok ini tidak bergabung dengan kelompok yang lebih dulu aksi.
(nrl/)











































