Demo BBM Tak Greget, Mahasiswa Harus Fokus Pada 1 Th 100 Hari
Jumat, 30 Sep 2005 09:03 WIB
Jakarta - Demo penolakan atas kenaikan harga BBM terasa kurang greget. Padahal, persentase kenaikan diprediksi lebih tinggi dibanding Maret lalu. Ada apa?"Naluri masyarakat untuk berdemo sudah berkurang jauh dibanding tahun 1998 lalu," kata pengamat politik dari LIPI, Ikrar Nusa Bhakti, saat dihubungi detikcom, Jumat (30/9/2005).Menurunnya antusiasme ini dikarenakan masyarakat tidak melihat adanya dampak politik yang besar akibat demo. "Masyarakat kemungkinan sudah bosen karena political impact-nya tidak terlalu besar baik dari sisi pergantian rezim ataupun mengganti kebijakan," ujarnya.Selain itu, nilai Ikrar, aksi demo besar-besaran Kamis kemarin agak salah kemasan. Sebab, kesepakatan politik antara pelaku dan penyandang dana demo tidak tergambar jelas. "Inilah yang kemungkinan menyiratkan too early kalau sekarang menilai hasil yang SBY capai," tambahnya.Meski tidak tertutup kemungkinan adanya faktor teknis yang ikut mempengaruhi kualitas demo. "Bagaimana mau dapat kendaraan angkut yang banyak kalau SPBU di Jakarta saja sudah banyak yang tutup," imbuh Ikrar.Dosen Pascasarjana FISIP UI ini mengusulkan agar kemasan demo penolakan BBM diubah. Agar keengganan masyarakat untuk kembali turun ke jalan bisa digugah. "Isu BBM harus dikemas ulang dengan menyinggung dampak kenaikan harga BBM terhadap kelompok masyarakat yang berpendapatan tetap," jelasnya.Hal ini, menurutnya, kerap dilupakan para penggagas demo. "Seharusnya, kelompok mahasiswa menyosialisasikan kenaikan ini tidak hanya berdampak bagi kaum pemilik kendaraan tapi juga kelompok marjinal," tandasnya.Untuk itu, kata Ikrar, lebih baik mahasiswa menunda keinginan berdemo dalam waktu dekat. Dan aksi besar-besaran dilakukan pada tepat 1 tahun 100 hari pemerintahan SBY. "Selain mengumpulkan energi yang lebih besar, langkah ini juga untuk melihat dampak atas kenaikan BBM dalam 3 bulan ke depan," tuturnya.Pada rentang waktu ini, mahasiswa berkesempatan untuk melakukan kajian dan menyosialisasikan dampak BBM bagi rakyat. "Bukan tidak mungkin kalau memang tidak teratasi kelangkaan BBM, masyarakat akan menilai pemerintahan sudah tidak becus. Dan alternatif pergantian pemimpin bukan lagi hal yang mustahil jika mahasiswa dan rakyat sudah bersatu di jalanan," tambah Ikrar.
(ton/)











































