Round-Up

Manuver Prabowo Dipahami Ma'ruf Amin

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 19 Apr 2019 06:40 WIB
Ma'ruf Amin (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta - Manuver capres Prabowo Subianto mendeklarasikan kemenangan hingga sujud syukur dimaklumi cawapres Ma'ruf Amin. Ma'ruf menganggap manuver Prabowo itu sebagai hal yang wajar.

"Kalau ngaku sih boleh aja. Ndak apalah. Memang namanya berusaha. Berusaha itu kan boleh aja ya," ujar Ma'ruf Amin di Rumah Situbondo, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (18/4/2019).



Momen Prabowo sujud syukur itu terlihat setelah dirinya melakukan jumpa pers di depan kediamannya Jl Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (17/4/2019). Peristiwa itu seolah mengulang momen sujud syukur Prabowo pada Pilpres 2014 lalu.

Dalam jumpa pers tersebut, Prabowo mengklaim menang 62 persen atas pesaingnya Jokowi-Ma'ruf. Dia kemudian meminta semua relawan Prabowo-Sandiaga termasuk parpol koalisi Indonesia Adil-Makmur, yakni PKS, PAN, Demokrat, Berkarya, dan Gerindra, tetap menjaga kotak suara hingga mengawal di kecamatan.



Prabowo Sujud Syukur Prabowo Sujud Syukur Foto: Prabowo Sujud Syukur (Tsarina Maharani/detikcom)


Prabowo juga mengklaim akan terpilih menjadi Presiden Indonesia. Dia pun menegaskan tidak akan menggunakan cara-cara di luar hukum.

Atas hal itu, Ma'ruf Amin tak mau ambil pusing. Dia sangat percaya hasil hitung cepat atau quick count dari sejumlah lembaga survei yang memenangkan pasangan nomor urut 01.

"Kan kebanyakan lembaga survei itu kan berbeda dengan survei yang mereka sebutkan itu," tuturnya.



Kendati demikian, mantan Rais Aam PBNU itu meminta masyarakat untuk menunggu hasil penghitungan resmi KPU. Bagi Ma'ruf, KPU lah yang berhak menentukan pemenang Pilpres 2019.

"Kita tunggu KPU. Akhirnya KPU yang menentukan," kata Ma'ruf.

Terkait rencana acara pendukung Prabowo-Sandiaga yang akan digelar di Monas, Ma'ruf menyerahkan sepenuhnya kepada kepolisian. Dia ingin situasi tetap kondusif pasca Pilpres 2019.

"Kita serahkan ke keamananlah, menunggu apa tidak, menimbulkan gaduh atau tidak. Saya kira keamanan yang punya kewenangan untuk menilai," ucapnya.

(knv/idn)