DetikNews
Rabu 17 April 2019, 15:13 WIB

7 ODGJ Pasien RSJ Marzoeki Mahdi Bogor Ikut Nyoblos

Farhan - detikNews
7 ODGJ Pasien RSJ Marzoeki Mahdi Bogor Ikut Nyoblos Foto: 7 ODGJ pasian RS Marzoeki Mahdi Bogor menggunakan hak pilihnya. (Farhan-detikcom)
Bogor - Tujuh orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) pasien Rumah Sakit Jiwa Marzoeki Mahdi, Bogor, Jawa Barat menggunakan hak pilihnya di Pemilu 2019. Mereka mencoblos di ruang pusat rehabilitasi rumah sakit.

Tujuh pasien ODGJ ini menggunakan form A5 atau formulir pindah memilih atau pindah TPS. Sebab, para pasien gangguan jiwa itu berdomisili di luar Kota Bogor.


Mereka mencoblos di TPS tambahan yang masuk dalam TPS 01 Kelurahan Menteng, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor.

Pantauan detikcom, satu persatu ODGJ yang masih dalam perawatan di RSMM tersebut memasuki ruang bilik suara yang disediakan pihak rumah sakit. Mereka mencoblos dengan didampingi petugas KPPS dan perawat RS. Sesekali, petugas KPPS membantu dan membimbing tata cara pencoblosan kepada pasien ODGJ.

Meski begitu, pemungutan suara di rumah sakit jiwa ini berjalan lancar. Tak ada satupun pasien yang mengamuk saat melakukan pencoblosan surat suara pemilu.

"Alhamdulillah lancar. Tidak ada kendala, karena semua pasien yang ikut nyoblos kondisi psikisnya sudah membaik. Semua menggunakan form A5, karena kebanyakan mereka tidak berdomisili di Bogor," terang Ketua KPPS 01 Menteng, Syarief ketika ditemui di RSMM Bogor, Rabu (17/4/2019).

"Jadi mereka hanya memilih capres dan cawapres saja," sambungnya.


Sementara itu, Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial RS MArzoeki Mahdi, dr Lahargo Kembaren menyebutkan, dari 100 lebih pasien ODGJ, hanya tujuh orang yang mencoblos di RS Marzoeki Mahdi. Selain pasien ODGJ, kata dr. Lahargo, ada 13 pasien yang dirawat di instalasi Napza yang ikut menyalurkan hak pilihnya di RSMM Bogor.

"Selebihnya ada yang dibawa pulang oleh keluarganya untuk mencoblos di tempat mereka tinggal," kata dia.

Menurutnya, ODGJ yang berhak menggunakan hak pilihnya pada pemilu kali ini adalah pasien yang sudah mendapat rekomendasi dari pihak rumah sakit.

"Semua berjalan lancar, mereka tahu yang mereka pilih. Artinya diagnosis gangguan kejiwaan itu tidak menunjukkan inkopetensi daam memilih, justru itu bagian dalam proses rehabilitasi psikososial bagi pasien, ODGJ dalam proses pemulihan mereka, mereka jadi punya harga diri punya kepercayaan diri, itu akan berperan penting dalam proses penyembuhannya," kata dr. Lahargo.


Saksikan juga video 'Ribut-ribut Pemilu di Bali: Surat Suara Habis, Pemilik A5 Protes':

[Gambas:Video 20detik]


(idh/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed