detikNews
Selasa 16 April 2019, 06:06 WIB

Round-Up

Jejak Bowo Sidik di Apartemen Dilacak KPK dari Siesa Darubinta

Tim detikcom - detikNews
Jejak Bowo Sidik di Apartemen Dilacak KPK dari Siesa Darubinta Siesa Darubinta yang menjadi saksi di kasus suap yang menjerat anggota DPR Bowo Sidik Pangarso (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Tak ada sepatah kata pun meluncur dari bibir Siesa Darubinta selepas menjalani pemeriksaan di KPK. Total kurang lebih 6 jam perempuan yang menjadi saksi di kasus suap yang menjerat anggota DPR Bowo Sidik Pangarso.

Siesa sebenarnya dipanggil penyidik pada Jumat, 12 April lalu, tetapi absen. Dia kemudian datang ke lembaga antirasuah itu pada Senin, 15 April kemarin pukul 10.30 WIB. Dua jam lebih setelahnya Bowo 'menyusul' Siesa datang ke KPK, tetapi belakangan Kabiro Humas KPK Febri Diansyah menyatakan bila Bowo dan Siesa tidak dipertemukan untuk pemeriksaan saling silang atau konfrontasi.



Jejak Bowo Sidik di Apartemen Dilacak KPK dari Siesa DarubintaSiesa--foto sebelah kiri--sebelum menjalani pemeriksaan di KPK, potret Siesa usai menjalani pemeriksaan (Foto: Ari Saputra)
"Tidak ada informasi terkait konfrontir tadi. Tadi ada pemeriksaan saksi, sedangkan BSP (Bowo Sidik Pangarso) dan 2 tersangka yang lain dari perpanjangan penahanan 40 hari," kata Febri di kantornya.

Selepas pemeriksaan pun Siesa yang tampil modis dengan setelan kemeja bercorak garis yang dipadukan dengan celana kulot berwarna putih itu tetap bungkam. Keterangan tentang pemeriksaan Siesa kemudian dijelaskan oleh Febri.

"Terkait dengan pengetahuan dari saksi (Siesa) ini tentang keberadaan tersangka BSP di apartemen pada saat itu. Jadi sejauh mana pengetahuannya itu diklarifikasi oleh penyidik," ujar Febri.



Berdasar pada konferensi pers KPK saat penetapan tersangka Bowo pada Maret lalu, Siesa memang disebut sempat diamankan dalam operasi tangkap tangan (OTT), meski kemudian dilepaskan. Siesa disebut KPK diamankan di apartemen yang berada di bilangan Permata Hijau usai tim KPK saat itu mengamankan sopir Bowo. Sedangkan keberadaan Bowo kemudian ditemukan KPK di kediamannya beberapa jam setelahnya.

Wakil Ketua KPK Basaria Pandjaitan sempat menyampaikan alasan tim kehilangan jejak Bowo pada saat OTT itu. Basaria menyebut prosedur memasuki apartemen itu cukup ketat sehingga tim KPK kehabisan waktu.

"Sulit untuk memasuki apartemen itu, kan harus punya prosedur yang banyak, sehingga makan waktu yang cukup lama. Waktu itu dimanfaatkan yang bersangkutan (Bowo Sidik Pangarso) untuk keluar dari apartemen," kata Basaria pada Kamis, 28 Maret lalu.

Selain urusan kucing-kucingan penyidik dengan Bowo pada saat OTT, Siesa juga disebut dicecar penyidik tentang aliran uang dalam pusaran suap yang diusut KPK. Namun Febri tidak menyebut detail apa saja yang diketahui Siesa perihal itu.

"Penyidik juga bertanya atau mendalami lebih lanjut sejauh mana pengetahuan dari saksi terkait dengan informasi-informasi aliran dana," imbuh Febri.


Jejak Bowo Sidik di Apartemen Dilacak KPK dari Siesa DarubintaBowo Sidik Pangarso yang kerap menunduk sesaat sebelum menjalani pemeriksaan di KPK (Foto: Ari Saputra/detikcom)


"Terkait dengan pengetahuan dari saksi (Siesa Darubinta) ini tentang keberadaan tersangka BSP (Bowo Sidik Pangarso) di apartemen pada saat (OTT) ituKabiro Humas KPK Febri Diansyah

Dalam pusaran kasus ini, Bowo ditetapkan KPK sebagai tersangka karena diduga menerima suap dari Asty Winasti selaku Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) melalui orang kepercayaannya bernama Indung. Suap itu diduga terkait upaya membantu PT HTK sebagai penyedia kapal pengangkut distribusi pupuk dari PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog).

KPK menduga ada 7 kali pemberian suap dari Asty untuk Bowo, termasuk uang Rp 89,4 juta yang diterima Bowo melalui Indung saat OTT. Sementara itu, 6 penerimaan sebelumnya disebut KPK sebesar Rp 221 juta dan USD 85.130 atau sekitar Rp 1,5 miliar.

Bowo, yang merupakan anggota Komisi VI DPR ini, juga diduga menerima gratifikasi Rp 6,5 miliar dari pihak lain. Total dugaan suap dan gratifikasi yang diterima Bowo berjumlah Rp 1,6 miliar dari PT HTK dan Rp 6,5 miliar dari pihak lainnya alias Rp 8 miliar yang kemudian ditemukan dalam 400 ribu amplop yang diduga untuk serangan fajar Pemilu 2019.
(dhn/mae)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com